G30S PKI, Begini Kondisi Kekacauan Ekonomi yang Terjadi

Safira Fitri, Jurnalis · Rabu 30 September 2020 06:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 29 320 2285775 g30s-pki-begini-kondisi-kekacauan-ekonomi-yang-terjadi-VMuHWJ13Nj.jpg Monumen Pancasila Sakti. (Foto: Okezone.com)

 JAKARTA - Tanggal 30 September diperingati sebagai Gerakan September 30 Partai Komunis Indonesia (PKI). Tak hanya peristiwa pembunuhan perwira tinggi militer negara, tapi ada cerita perusakan tatanan ekonomi yang terjadi kala itu.

Melansir buku Mengapa G30S/PKI Gagal? karya Mayjen. (Purn) Samsudin, Rabu (30/9/2020), diceritakan ketika bidang ekonomi akan diinfiltrasi oleh para kader dengan cara menyusupi perusahaan-perusahaan. Apabila kondisinya memungkinkan, pimpinan perusahaan akan diambil alih.

Baca Juga: Masyarakat Tak Boleh Lupa Tentang G30S PKI, Filmnya Harus Diperbarui

Simultan dengan itu, dilakukan pula kegiatan mendirikan firma-firma yang akan ikut dalam perdagangan dunia. Tujuan infiltrasi ke dalam bidang ekonomi tidak lain adalah untuk merusak tatanan ekonomi dari dalam sambil mencari dana guna keperluan subversi.

Kekacauan ekonomi yang diciptakan di atas lebih dipertajam lagi. Kebutuhan sehari-hari sangat sulit diperoleh, harga-harga melambung dan inflasi tidak terbendung. Selanjutnya krisis produksi ditimbulkan. 

Bila dipandang perlu, krisis itu dapat diciptakan dengan merusak sarana produksi, alat-alat transportasi sehingga jalur distribusi terhambat. Dengan demikian, sekaligus akan berdampak langsung pada kehidupan masyarakat seperti kelaparan, kemiskinan, dan pengangguran.

Baca Juga: Saat Kritis Bersimbah Darah, Ade Irma Suryani: Kenapa Ayah Ditembak?

Pada gilirannya, front keamanan akan sangat terpengaruh. Setelah kekuasaan diambil alih dan dilanjutkan dengan fase konsolidasi, kemudian dibuatlah peraturan perundang-undangan di bidang ekonomi yang menghapuskan kepemilikan alat-alat produksi swasta atau perorangan.

Di bidang sosial, penyusupan dilakukan ke dalam organisasi-organisasi seperti organisasi politik, olah raga, mahasiswa. pelajar, buruh, tani, dan angkatan bersenjata.

Dengan situasi revolusioner yang telah diciptakan sebelumnya, infiltrasi ke dalam front sosial ini sangat cepat bekembang. Cara mengadakan infiltrasi sangat bervariasi sesuai dengan keadaan pada saat ini. Dapat dilakukan terbuka artinya dilakukan secara terang-terangan. Kemungkinan lain, infiltrasi dilakukan dengan semi tertutup. Cara ini sangat samar-samar.

Ada terasa telah terjadi sesuatu tetapi apa yang terjadi itu tidak jelas benar. Cara tertutup merupakan kemungkinan lain yang dapat dilakukan oleh kader-kader untuk menyusupi kehidupan sosial. Penyusupan dengan cara tertutup ini tidak terasa dan tidak ada yang tahu, kecuali beberapa orang saja dari para pengendali subversi itu.

Kemudian aktivitas subversi di bidang sosial dilanjutkan dengan membentuk organisasi kedok. Yang penting dalam membentuk organisasi kedok ini ialah segi kuantitasnya, dengan tujuan mendapat dukungan massa sebanyak-banyaknya.

Perkumpulan dan golongan-golongan yang tidak ada hubungan yang satu dengan yang lainnya dihimpun dan diikat ke dalam suatu kekuatan untuk melakukan aksi-aksi massa. Perkumpulan dan golongan yang dimaksud di atas bukanlah organisasi politik melainkan mereka yang mempunyai kepentingan tertentu seperti pencinta alam, cendekiawan, seniman, atlet, mahasiswa, pelajar, pencinta damai, dan lain-lain.

Kegiatan subversi di bidang sosial ini dilakukan dengan cara tertutup maupun terbuka. Tetapi tidak diketahui hubungan gerakan satu dengan lainnya dan dari mana sumbernya. Jika dukungan massa telah diperoleh sebanyak-banyaknya, ditimbulkanlah dialektische sprong, yaitu titik berat beralih dari kuantita menjadi kualitas.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini