Omzet 0 Rupiah, Titik Nadir Pelaku Usaha Pariwisata di Era Corona

Taufik Budi, Jurnalis · Kamis 01 Oktober 2020 17:19 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 01 455 2286898 omzet-0-rupiah-titik-nadir-pelaku-usaha-pariwisata-di-era-corona-VTnrC9m7xy.jpg Wisata Indonesia Terkena Dampak Luar Biasa Selama Pandemi. (Foto: Okezone.com)

SEMARANG – Pandemi Covid-19 menjadi masa paling rendah pelaku usaha di bidang pariwisata Kota Semarang, Jawa Tengah. Bukan hanya ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), namun banyak di antaranya yang mengalami penurunan omzet hingga Rp0.

“Penurunan omzet secara drastis, terjadi banyak PHK,” kata Pengamat Ekonomi Semarang Dr Nila Tristiarini, dalam diskusi via daring berjudul “Less Contact Ekonomi untuk meningkatkan Eksistensi UMKM Kota Semarang di Masa Pandemi” yang digelar Gojek.

Baca Juga: Diskon Paket Wisata 50% Berlaku di 25 Kota, Ini Daftarnya

Dosen Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) itu menyampaikan, beragam cara yang digunakan untuk mendongkrak pasar masih belum efektif. Terlebih, minat masyarakat terhadap pariwisata masih rendah karena khawatir terpapar Covid-19 sehingga mengurangi aktivitas di luar rumah.

“Media sosial sudah digunakan tapi tidak berfungsi maksimal karena minat masyarakat untuk wisata masih sangat rendah,” lugasnya.

Padahal, sebelum masa pandemi pelaku usaha di bidang pariwisata memiliki omzet sangat besar. Mereka bisa mendapatkan Rp10-Rp100 juta per bulan. Namun, pandemi menjadi pukulan telak yang menggerus habis omzet mereka.

Dia menyebutkan terdapat 17.602 UMKM di Kota Semarang yang tercatat sampai Juli 2020. Mereka terbagi dalam 10 klaster di angtraanya olahan pangan, bandeng, jamu, lunpia, batik, logam, kerajinan, tas, pariwisata, mebel.

Baca Juga: Asyik, Bakal Ada Diskon Paket Wisata 50%

Dari sekian klaster UMKM itu, pelaku usaha di bidang olahan pangan dinilai yang paling bisa bertahan menghadapi gempuran pandemi. Meski mengalami penurunan, namun masih tetap eksis dibanding klaster lainnya.

“Olahan pangan omzet sebelumnya Rp10 juta per bulan, namun kini kurang dari Rp5 juta. Penurunan penjualan karena daya beli yang rendah. Belum bisa secara maksimal menggunakan sosial media untuk pemasaran online, dan tidak mengetahui cara bergabung di market place,” ungkapnya.

Menurutnya, penyedia aplikasi seperti Gojek memiliki peran besar bagi pengembangan 10 klaster UMKM di Kota Semarang. Apalagi, ekosistem yang dibangun bisa mempermudah transaksi secara contactless baik menggunakan jasa antar maupun pembayaran dengan uang elektronik.

“Ekosistem Gojek mampu membantu perluasan jenis produk, mempermudah transaksi secara contactless baik menggunakan aplikasi Gojek maupun membayar dengan menggunakan Gopay, serta memperluas pasar dengan GoSend yang saat ini mampu menjangkau antarkota di Pulau Jawa,” jelasnya.

Sementara itu, VP Regional Strategi Gojek Jabar, Jateng, dan DIY, Becquini Akbar, menyampaikan lebih dari 90% mitra usaha merasa sangat terbantu dengan teknologi yang tersedia dalam ekosistem. Mereka bisa bertahan di masa pandemi.

“Kami percaya, kemudahan dan keamanan akses dalam proses aktivasi kian mendukung mitra UMKM untuk memulai usaha, beradaptasi dan mampu melebarkan sayap bisnisnya. Di aplikasi GoBiz terbaru, mitra UMKM bisa memanfaatkan fitur Daftar Mandiri untuk melakukan pendaftaran, mengecek status verifikasi, dan aktivasi akun secara mandiri,” terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini