Cerita Pembatik Asal Solo, Mulai Kejayaan hingga Terhantam Corona

Bramantyo, Jurnalis · Jum'at 02 Oktober 2020 13:26 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 02 455 2287303 cerita-pembatik-asal-solo-mulai-kejayaan-hingga-terhantam-corona-rQxnMhskx8.jpg Batik (Foto: Bram/Okezone)

SOLO - Margono terlihat tengah mengawasi pekerjanya membuat pola batik di atas kanvas, saat Okezone tiba rumah sekaligus tempat produksi di Laweyan, Solo.

Tatapan mata Margono begitu tajam memperhatikan setiap pola yang dibuat karyawannya itu. Sesekali, Margono meminta karyawannya itu untuk mengulangi kembali gambar yang dibuat.

"Ya begini pekerjaaan saya setiap hari. Meski batik ini bukan untuk diekspor, tapi pesanan orang yang ingin punya hajat, tapi harus rapi dan bagus,"papar Margono mengawali pembicaraan pada Okezone, Jumat (2/10/2020).

Baca Juga: Jelang Resesi, Yuk Bikin Usaha agar Tak Cuma Andalkan Gaji

"Buat hajatan, memang masih boleh pak di saat Covid ini,"tanya okezone pada Margono.

Margono menjawab, memang di saat Covid ini, hajatan dengan skala besar dilarang. Tapi untuk skala terbatas, masih diperbolehkan.

"Kalau jumlahnya kecil, sak kodi (isi 24) ada," ujarnya.

Tetap melayani pembeli batik dalam jumlah terbatas, terpaksa dilakukan Margono agar tetap bisa bertahan. Karena, sejak Pandemi Covid-19, usaha batik mengalami kelesuan yang luar biasa.

Baca Juga: 7 Kiat Membangun Startup, Jangan Salah Pilih Tim Kerja

Bahkan Margono menyebut, masa Pandemi Covid-19 ini merupakan masa terburuk yang dialaminya. Bahkan saat krisis moneter diera 1998 saja, dirinya masih bisa mengekspor batik hingga Amerika.

"Masa pandemi Covid-19 ini merupakan masa terburuk yang harus kami hadapi. Saat krisis ekonomi di era reformasi saja tidak seperti sekarang. Masih bisa ekspor ke Amerika saya,"ujar Margono.

Menurut Margono, dirinya merintis usaha batik sejak tahun 1976 silam. Kala itu, Batik merupakan primadona dimasa itu. Banyak anak-anak muda, termasuk dirinya yang ikut-ikutan membuka usaha batik.

Diakuinya, keputusannya memulai membuka usaha batik, saat itu hanya sekedar ikut-ikutan teman-temannya yang lebih memilik membuka usaha batik, dibandingkan mencari pekerjaan.

"Saat itu banyak teman-teman main saya yang membuka usaha batik. Katannya waktu itu, dari pada cari kerjaan, mending buka batik," katannya sambil tertawa.

Karena pengengetahuan batik saat itu masih minim, tentu saja, batik yang dirintisnya saat itu berjalan di tempat.

Baru, pada tahun 1992, generasi muda batik membuat terobosan yang cukup membuat generasi sebelum dirinya marah-marah.Karena generasi muda batik, membuat sebuah batik yang dianggap merusak pakem batik. Yaitu batik kontemporer.

"Batik kontemporer itu modifikasi motif batik yang telah ada. Seperti motif parang, Klithik atau improvisasi dari motif Sekar jagad. Dari motif-motif itulah digabung jadi batik kontemporer lebih fleksibel mengikuti keinginan masyarakat," terangnya.

Saat mengganti motif batik menjadi kontemporer itulah, Margono mengakui angka penjualannya melonjak jauh. Meskipun kala itu keuntungannya hanya Rp20 ribu hingga Rp35 ribu per potong, sekarang keuntungannya sudah berlipat ganda.

Hingga akhirnya dirinya bertemu dengan pengusaha menengah asal Amerika. Dari perkenalan itulah, motif batik kontemporer yang selama ini ditekuninya berubah drastis.

"Rekan bisnis saya asal Amerika itu bilang, kalau mau masuk pasar Amerika,corak batik saya itu harus diubah. Karena saran itulah, saya berpikir, apa yang cocok untuk motif batik saya," terangnya.

Mulailah Margono mengutak-atik motif batiknya. Hampir satu bulan lebih dirinya terfokus pada pencarian batik. Keuntungan menggiurkan masuk pangsa pasar Amerika yang membuat dirinya termotivasi.

Hingga akhirnya, dirinya menciptakan motif batik, yang dinamakan batik semprot naptul.

"Dan ternyata, motif batik semprot naptul yang diciptakan saya ini, sangat disukai oleh pasar Amerika. Selama bertahun-tahun saya mampu menembus Amerika," terangnya.

Namun, nasib berkata lain, rekan bisnisnya itu pun meninggal dunia. Karena hanya memiliki satu rekan bisnis saja, Margono pun akhirnya tak bisa lagi mengekspor batik miliknya ke negeri Paman Sam.

Dan pelan namun pasti, usahannya mengalami kemunduran. Kemunduran semakin terpuruk di masa pandemi ini. Untuk tetap bertahan, Margono berpikir keras memasarkan batiknya.

"Ibarat orang melangkah, sekarang saya hanya melangkah ditempat. Biar tetap bertahan, partai kecil pun tetap saya layani," terangnya.

Untuk itu Margono berharap uluran tangan dari pemerintah mencarikan jalan keluar terhadap kelangsungan usaha batik. Terutama kelangsungan para pengusaha batik skala kecil seperti dirinya.

Tanpa bantuan dari pemerintah, membantu pemasaran batik, bisa mengancam kelangsungan usaha batik kecil seperti dirinya.

"Apalagi seperti saya, udah usaha sepi, masih harus memikirkan bayar cicilan modal usaha ke bank. Kalau Pemerintah tak mencarikan solusi di masa sulit seperti saat ini, ya gimana lah," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini