Alasan Menaker soal Pengurangan Jam Istirahat Kerja

Rina Anggraeni, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 19:21 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 320 2290060 alasan-menaker-soal-pengurangan-jam-istirahat-kerja-At76HvzF4M.jpg Penjelasan Menaker Soal Jam Kerja dalam UU Cipta Kerja. (Foto:: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mengakui ada pengurangan jam istirahat kerja di dalam Undang-Undang (UU) Cipta Kerja (Ciptaker). Hal ini terlihat dalam perubahan UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dalam UU Ciptaker.

Pertama, waktu kerja yang mana dalam UU sebelumnya diatur waktu kerja rigid 7 jam per hari dan 40 jam untuk 6 hari dan 8 jam per hari dan 40 jam untuk 5 hari kerja.

Baca Juga: 183 Hari Tinggal di Indonesia, Warga Asing Wajib Taati Pajak

"Mengenai ketentuan waktu kerja dan istirahat. ini banyak sekali terjadi distorsi. ini tetap diatur sebagaimana UU 13 Tahun 2003 dan menambah ketentuan baru mengenai ketentuan waktu kerja dan istirahat pada sektor usaha dan pekerjaan tertentu," ujar Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah, secara Virtual, Rabu (7/10/2020).

Baca Juga: Menko Airlangga: Tujuan UU Cipta Kerja untuk Pangkas Regulasi

Dia melanjutkan, adanya aturan ini agar bisa melindungi pekerja dan buruh. Adapun pemotongan jam istirahat ini tidak semua jenis pekerjaan yang kena. Hanya beberapa jenis pekerjaan yang mendapatkan pengurangan jam kerja dikarenakan sudah digantikan oleh teknologi.

"Ini buat perlindunyan pekerja atau buruh pada bentuk hubungan kerja dan sektor tertentu yang di era ekonomi digital saat ini berkembang sangat dinamis. Jadi benar- benar mengakomodasi kondisi tenagakerjaan akibat adanya bekembang cepatnya ekonomi digital," bebernya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini