Besar Kecilnya Penghasilan Bukan Alasan Tak Bisa Menabung

Safira Fitri, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 12:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 622 2289750 besar-kecilnya-penghasilan-bukan-alasan-tak-bisa-menabung-7FHuW9XBgd.jpg Tips Mengatur Keuangan (Ilustrasi: Shutterstock)

JAKARTA - Tidak sedikit orang yang mengeluhkan, sudah lama bekerja, menerima penghasilan tapi tidak juga memiliki tabungan. Sebenarnya, bukan masalah berapa lama atau bahkan berapa puluh tahun lama bekerja.

Melainkan, yang harusnya lebih dipahami adalah bagaimana mengelola penghasilan tersebut. Kemana saja alokasi dana penghasilan yang didapat? Apakah kebutuhan prioritas sudah lebih dulu terpenuhi?

Baca Juga: Menabung saat Resesi, 5 Mindset Ini Wajib Dihilangkan 

Seperti dilansir dari buku Cerdas dan Bijak Mengatur Keuangan Rumah Tangga: Panduan Bagi Ibu Rumah Tangga oleh Wahyuni Indriyani, Jakarta, Selasa (6/10/2020), terdapat contoh kasus nyata seorang pekerja yang telah bekerja di perusahaan farmasi selama 6 tahun.

Ia bekerja dengan memegang jabatan sebagai kepala laboratorium dan memiliki gaji yang lumayan besar setiap bulannya. Namun, disadari bahwa selama bertahun-tahun bekerja, ia sama sekali tidak memiliki tabungan.

Baca Juga: Korban PHK Harus Move On, Yuk Coba Merintis Bisnis

Uang di rekening banknya selalu saja nyaris habis setiap bulannya. Sebenarnya ia sudah pernah bertekad untuk menabung namun dirinya selalu tidak dapat menahan diri dari hasrat belanja setiap melihat tanda sale atau diskon di mall atau di marketplace androidnya.

Selain itu juga terdapat sejumlah kewajiban yang harus dibayarkan rutin setiap bulannya. Namun jika uang direkeningnya tidak mencukupi, ia dengan mudahnya menggesek kartu kredit untuk memenuhi hal tersebut.

Fenomena seperti inilah yang banyak terjadi, terutama pada seseorang yang masih lajang atau belum menikah. Sudah lama bekerja namun tidak punya tabungan. Hal lain yang menjadi penyebab juga kurangnya motivasi, belum memiliki kewajiban untuk menafkahi, menganggap menabung itu tidak terlalu penting, terlalu banyak keinginan, dan sikap yang selalu menunda.

Namun, penghasilan bisa saja terlalu besar atau pun terlalu kecil. Hal tersebut tergantung dari mana memandang dan bagaimana membandingkan antara usaha dengan hasil yang diterima.

Pasalnya, nominal tidak bisa dijadikan parameter apakah penghasilan terlalu besar atau kecil. Pola hidup dan emosilah yang menentukan cukup atau kurang dengan apa yang telah dimiliki.

Jika berada seperti pada kasus di atas, janganlah mengabaikan pengeluaran dan pemasukan yang kecil. Mulailah memberi perhatian pada pemasukan dan pengeluaran yang kecil, sebab pemasukan kecil bisa mendukung dan berpartisipasi dalam kekayaan pribadi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini