Pemulihan Ekonomi RI Pasca-Corona Berbentuk Kurva W, Maksudnya?

Fadel Prayoga, Jurnalis · Kamis 22 Oktober 2020 13:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 22 320 2297751 pemulihan-ekonomi-ri-pasca-corona-berbentuk-kurva-w-maksudnya-fvG5DsCFkc.jpg Grafik Ekonomi (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA - Semua negara sedang mengalami tekanan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Akibatnya, hampir seluruh negara terperosok ke jurang resesi.

Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menilai Indonesia juga akan masuk ke jurang resesi pada pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) 5 November mendatang. Kini, yang harus dipikirkan adalah memulihkan pertumbuhan ekonomi setelah mengalami gejolak tersebut.

Baca Juga: Indonesia Resmi Resesi, Luhut Bocorkan Ekonomi Kuartal III Minus 2,9%

Dia menyebut, pemulihan ekonomi itu tergantung dari bagaimana pemerintah melakukan penanganan secara baik terhadap pandemi tersebut. Pemerintah pun masih belum mampu menurunkan angka penyebaran kasus Covid-19. Sehingga, pemulihan diperkirakan tak akan bisa berlangsung cepat. 

"Salah satu faktor utamanya adalah ada pengendalian kurva covidnya. Jadi ekonomi dalam bagaimanapun akan kembali normal, aktivitas kembali normal, kalau Covid-19 sudah enyah. Sehingga banyak negara relatif landai, ini ada kepastian kurvanya V," kata Enny dalam acara Jakarta Geopolitical Forum (JGF) IV/2020 di Gedung MNC Tower, Jakarta, Kamis (22/10/2020).

Menurut dia, jika kasus Covid-19 tak juga bisa dikendalikan oleh pemerintah, maka jangan harap pemulihan ekonomi akan berbentuk kurva V. Dia meramalkan bentuknya nanti malah akan mengarah ke kurva W. 

Sebagai informasi, Kurva W, didapat dari grafik yang menunjukkan resesi dalam ekonomi lalu pulih dengan cepat seperti semula, tapi kemudian tersuruk lagi dan bangkit lagi. Kerap juga disebut sebagai double dip recession karena ekonomi tersuruk dua kali sebelum pemulihan terjadi secara utuh.

"Banyak kajian yang kami lakukan justru ini yang kemungkinan terjadi Indonesia justru mengalami kurva W. Di triwulan III mungkin tidak lebih dari minus 5,32%, tapi saya enggak yakin kontraksinya hanya sekitar 1%-2%. Nanti kan bisa kelihatan. Sehinnga, kalau W turnnya kecil-kecil, begitu anjlok terjun bebas," ujarnya.

Dia menambahkan, kondisi itu yang membuat investor belum percaya untuk menggelontorkan uangnya di Tanah Air.

"Ini justru yang menybabkan tidak confident dari investor. Karena bukan persoalan sulit atau tidaknya berinvestasi, tapi kepastian menghitung risiko dan kepastian menghitung berapa potensi keuntungan," kata dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini