Neraca Dagang Surplus USD2,44 Miliar, Sri Mulyani hingga Mendag Tuai Pujian

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 23 Oktober 2020 13:51 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 23 320 2298342 neraca-dagang-surplus-usd2-44-miliar-sri-mulyani-hingga-mendag-tuai-pujian-6xotxdPUTo.jpg Neraca Dagang Surplus Jadi Sinyal Positif untuk Pemulihan Ekonomi. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia menunjukan tanda-tanda positif di tengah pandemi. Pasalnya, pada September 2020, neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami surplus sebesar USD2,44 miliar.

Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan, surplusnya meraca perdagangan ini merupakan sebuah prestasi. Surplusnya neraca dagang ini tidak terlepas dari kerja keras tiga Menteri dari Presiden Joko Widodo.

Pertama adalah Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Menurutnya, surplusnya neraca dagang Indonesia karena ada peningkatan kinerja perdagangan, dan hal ini bisa menjadi sinyal pulihnya perekonomian nasional.

Baca Juga: Neraca Dagang RI Surplus 7 Kali pada 2020, Ini Kata Mendag

"Ini sebuah prestasi, kalau saya lihat Pak Agus Suparmanto penyebutannya jarang di media tapi kerjanya bagus. No talk, action only," ujarnya kepada media, Jumat (23/10/2020).

Selain Agus, kinerja dari Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang juga patut mendapatkan acungan jempol. Sebab menurutnya, Menkeu Sri Mulyani secara cepat mengeluarkan kebijakan fiskal di tengah pandemi COVID-19.

"Sri Mulyani Karena cepat responsnya terhadap fiskal, stimulus meskipun PR-nya pencairannya. Agus Gumiwang mampu menjaga PMI (Purchasing Managers’ Index Indonesia)," ucapnya.

Baca Juga: Neraca Dagang Surplus 5 Kali Berturut-turut, Baca 3 Faktanya

Menurut dia, peningkatan surplus perdagangan yang disebabkan surplus nonmigas menjadi USD2,91 miliar bukan tiba-tiba saja. Melainkan hasil dari kinerja menteri-menteri ekonomi Jokowi.

Di mana secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada Januari–September 2020 tercatat surplus USD13,51 miliar. Surplus tersebut bahkan telah melampaui surplus neraca perdagangan tahun 2017 yang mencapai USD11,84 miliar, yang merupakan nilai surplus tertinggi dalam lima tahun terakhir (2015–2019).

"Kalau dibilang prestasi ini adalah prestasi utama dari pemerintahan Jokowi karena neraca dagang surplus. mungkin ada peran pandemi untuk tren impor yang melemah, tetapi kalau kita lihat tren impor bahan baku dan barang modal secara bulanan menunjukan tanda-tanda perbaikan," jelasnya

 Kemudian, dari sisi ekspor Indonesia yang mencapai USD14,0 miliar ini terjadi karena solidnya kenaikan indeks manajer pembelian (Purchasing Managers Index/ PMI) Indonesia. Sempat anjlok di bulan April (27), tetapi rebound dengan solid hingga september.

"Kenaikan secara gradual di PMI ini turut meningkatkan kinerja perdagangan, karena kalau perdagangan ekspor itu kita sebenarnya berbicara dari industri karena ekspor itu surplus dari industri," ucapnya.

Kenaikan PMI ini adalah buah dari intervensi non fiskal berupa relaksasi impor bahan baku dan barang modal yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan sejak april lalu.

Peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada September 2020 sebesar 7% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM) ini didorong adanya kenaikan ekspor migas 17,4% MoM maupun nonmigas 6,5% MoM.

Sementara Impor Bahan Baku dan Penolong pada September 2020 Meningkat Sementara itu, impor bulan September 2020 tercatat sebesar USD11,6 miliar atau naik 7,7% dibandingkan Agustus 2020.

Perbaikan kinerja ekspor bulanan Indonesia sejak Juni hingga September 2020 sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian global. Sebagai contoh, Singapura yang merupakan hub perdagangan bagi Indonesia di pasar global mengalami pertumbuhan yang lebih baik di triwulan III 2020 dibandingkan triwulan sebelumnya, meskipun masih tumbuh negatif.

Membaiknya perekonomian global juga tercermin pada proyeksi IMF pada World Economic Outlook yang dirilis pada Oktober 2020, yang merevisi perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 dari sebelumnya -4,9% menjadi -4,4%. Faktor yang mendorong mulai membaiknya perekonomian global, antara lain adalah mulai diakhirinya karantina wilayah (lockdown) ataupun diterapkannya lockdown parsial, serta pemulihan ekonomi RRT yang lebih cepat dari ekspektasi sebelumnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini