Santan Beku Sumut Tembus Pasar Thailand

Wahyudi Aulia Siregar, Jurnalis · Senin 26 Oktober 2020 13:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 26 455 2299640 santan-beku-sumut-tembus-pasar-thailand-nV0jdzqceM.jpg Santan (Foto: BBC)

MEDAN - Thailand memang terkenal dengan produk kelapanya, namun bukan berarti pasar Thailand tak bisa dijangkau oleh pengusaha Indonesia.

Terbukti telah dilakukan kegiatan ekspor perdana produk turunan kelapa berupa santan kelapa beku (coconut cream) ke negeri gajah putih. Sebanyak 54 ton santan beku senilai Rp2 miliar.

Baca Juga: Kunci Sukses Bangun Bisnis Selama Pandemi

"Kami mengapresiasi petani dan pelaku usaha sektor pertanian yang telah mampu menembus pasar baru. Juga produk yang diekspor bukan lagi produk mentah, tapi sudah hasil hilirisasi berupa produk jadi. Jaga 3K-nya (kualitas, kuantitas dan kontinuitas), kami siap mengawal," kata Kepala Balai Karantina Pertanian Ali Jamil dalam keterangan resminya, Senin (26/10/2020).

Jamil menjelaskan bahwa upaya peningkatan ekspor produk pertanian merupakan salah satu fokus program strategis Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

Untuk itu, pihaknya yang ditunjuk selaku koordinator gugus tugas peningkatan ekspor melakukan beberapa langkah, salah satunya dengan melakukan upaya kerjasama dan harmonisasi aturan serta protokol ekspor agar pelbagai komoditas pertanian tanah air dapat diterima di manca negara.

Masih menurut Jamil, unit kerja yang dipimpinya saat ini berperan dalam menjamin kesehatan dan keamanan komoditas pertanian yang dilalulintaskan baik ekspor, impor maupun diantar area.

Diera perdagangan bebas saat ini, aturan hambatan tarif tidak lagi populer. Produk pertanian yang dapat diterima di pasar dunia adalah yang telah dijamin kesehatan dan keamanannya dengan memenuhi persyaratan sanitari dan fitosanitari yang dipersyaratan negara tujuan.

"Untuk itu diperlukan sinergi semua pihak termasuk masyarakat. Laporkan kepada petugas karantina saat melalulintaskan produk pertanian. Selain untuk menjaga kelestarian dari hama penyakit berbahaya, juga agar sehat dan aman untuk pangan, pakan sekaligus dapat laris di pasar dunia," tutur Jamil.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini