Cara Bisnis Nabi Muhammad SAW, Mulailah dengan yang Kanan

Fakhri Rezy, Jurnalis · Rabu 28 Oktober 2020 15:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 28 455 2300819 cara-bisnis-nabi-muhammad-saw-mulailah-dengan-yang-kanan-HLToUT0v9e.jpg Ekonomi Syariah (Shutterstock)

JAKARTA - Berkaca dari Nabi Muhammad SAW, banyak ilmu terapan yang dapat dilakukan hingga saat ini. Salah satunya adalah cara berbisnis.

Bahkan, sekedar petuah Nabi Muhammad SAW soal 'mulailah dengan yang kanan' dapat menjadi hal baik di bisnis. Apa sebenarnya makna memulai dari yang kanan?

Jejak bisnis Nabi Muhammad SAW menunjukkan penafsiran yang sangat luas terkait memulai dengan yang kanan. Salah satunya mendahulukan anggota tubuh sebelah kanan, baik dalam keseharian maupun dalam beribadah. Sementara itu, penafsiran lainnya membahas tentang penggunaan otak kanan.

 Baca juga: Belajar Profesionalisme Berbisnis dari Nabi Muhammad SAW

Para ahli yang mulai meneliti sejak 1930-an menemukan adanya perbedaan fungsi otak kanan dan kiri. Otak kiri dianggap sebagai otak rasional yang erat kaitannya dengan kecerdasan intelektual (IQ), lebih bersifat logis, aritmatika, verbal, segmental, fokus, serial (linear), mencari perbedaan, dan bergantung waktu.

Sementara itu, otak kanan adalah otak emosional yang erat kaitannya dengan kecerdasan emosi (EQ), yang bersifat intuitif, spasial, visual, holistis, difus, paralel (lateral), mencari persamaan, dan tidak bergantung waktu.

 Baca juga: 5 Konsep Pebisnis Andal dari Rasulullah SAW

Karena sifat-sifat itulah, otak kanan dinilai mampu mencuatkan empati, keramahan, keikhlasan, syukur, dan pemaknaan hidup. Tak hanya itu, dengan menggunakan otak kanan, setiap individu juga bisa memperlihatkan kreativitas, gurauan, penceritaan, dan kiasan, termasuk mencuatkan imajinasi visi, intuisi, dan sintetis yang semuanya mustahil dilakukan oleh otak kiri.

Seperti dikutip dari buku ‘Muhammad sebagai Pedagang’ karya Ippho Santosa dan Tim Khalifah terbitan Elex Media Komputindo, Jakarta, Rabu (28/10/2020), dualisme otak ini disebut dapat membuat manusia untuk berpikir serbabiner. Contohnya, manusia bisa memikirkan dua hal sekaligus, seperti berhasil-gagal, untung-rugi, debit-kredit, halal-haram, surga-neraka, hingga timur-barat.

Sementara itu, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Dahulu Nabi SAW amat menyukai memulai dengan kanan dalam mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam urusannya yang penting semuanya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya di Kitabul Wudhu bab At-Tayammuni fil Wudhu’i wal Ghusli 1/269 hadits No.168, dan Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabu ath-Thaharati Babut tayammun fith Thahuur wa Ghairih 1/226 hadits No.268.

Hadits ini bisa dimaknai bahwa dalam melakukan hal-hal yang berkaitan dengan keindahan, setiap individu diharapkan dapat memulainya dengan sebelah kanan. Contohnya, setiap individu dianjurkan untuk memulai atau menggunakan dengan bagian tubuh sebelah kanan saat mengenakan pakaian, masuk masjid, mencukur rambut, makan, minum, serta bersalaman.

Tetapi, untuk hal-hal yang negatif, setiap individu dianjurkan untuk memulainya dengan sebelah kiri. Misalnya, menggunakan tangan kiri saat bersuci dari hadas dan membersihkan rongga hidung, serta saat melepas pakaian.

Imam Nawawi rahimahullah meriwayatkan, kaidah syariat yang terus berlaku bahwa segala yang berhubungan dengan kemuliaan dan keindahan dianjurkan untuk memulai dengan sebelah kanan. Sebaliknya, segala sesuatu yang merupakan kebalikannya dianjurkan memulai dari sebelah kiri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini