Bekas Tambang Timah di Babel Dijadikan Budidaya Ikan Hias

Taufik Fajar, Jurnalis · Kamis 29 Oktober 2020 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 29 455 2301227 bekas-tambang-timah-di-babel-dijadikan-budidaya-ikan-hias-vB8RcQHCEH.jpg Bekas Tambang Jadi Tempat Budidaya Ikan. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) mengembangkan budidaya ikan dengan memanfaatkan lahan bekas galian tambang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Rencana ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Bangka Belitung.

Provinsi Bangka Belitung telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah yang memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan daerah. Timah telah ditambang di provinsi ini sejak zaman Belanda pada abad ke-17 dan kemudian beralih secara resmi ke Indonesia pada 1952.

Baca Juga: Menteri Edhy Tak Puas soal Kucuran Kredit Modal Usaha KKP, Kenapa?

Harga timah yang mahal selalu menjadi daya tarik atas keberadaan usaha penambangan timah bagi perusahaan dan masyarakat, baik dari dalam maupun luar Provinsi Bangka Belitung. Bekas galian tambang atau yang lebih dikenal dengan kolong, dengan luas mencapai 1.712 hektare (2015), adalah ruang air yang potensial untuk pengembangan ikan lokal perairan darat, yang tidak hanya bermanfaat dari sisi konservasi dan kelestarian biodiversitas ikan, namun juga sumber penghasilan baru bagi masyarakat pelaku utama/usaha perikanan di Bangka Belitung.

KKP akan melaksanakan Program Pelangi, yaitu Pemanfaatan Lahan Bekas Tambang untuk Pengembangan Perikanan. Dalam pengembangan beraneka ragam ikan hias air tawar di Bangka Belitung ini juga akan dibuat sebuah kawasan konservasi perikanan darat.

Baca Juga: RI Mencari 'Harta Karun' Laut di Wilayah 3T

Menurut Kepala Pusat Perikanan KKP Yayan Hikmayani, yang diwakili oleh Kepala Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang Arif Wibowo, Bangka Belitung memiliki habitat ikan darat lokal yang bila dikembangkan akan mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, sehingga dapat menjadi salah satu penyangga ekonomi di daerah ini.

"Provinsi ini memiliki sumber daya ikan hias lokal/endemik potensial dapat beradaptasi dan dapat dikembangan dengan kemampuan bertahan pada pada lingkungan perairan pH (Power of Hydrogen) asam di kolong bekas tambang, seperti Betta burdigala, Betta chloropharynx, Parosphromenus bintan, Trigonostigma heteromorpha dan Trichogaster trichopterus," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, Kamis (29/10/2020).

Kemudian, lanjut dia, terdapat banyak tantangan berat yang dihadapi dalam mewujudkan Program Pelangi ini. Setidaknya komitmen dari berbagai pihak dapat memberikan angin segar dan memberi semangat mensukseskan program ini.

"Kami berharap pihak-pihak dapat memberi dukungan dalam bersinergi dengan KKP antara lain Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi, Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi Perikanan, dan PT Timah, Tbk," ungkap dia.

Sementara itu, Gubernur Bangka Belitunh Erzaldi menyatakan dukungan penuh terhadap rencana KKP tersebut. Pihaknya mengapresiasi upaya KKP yang telah melakukan penelitian, khususnya tentang pemanfaatan kolong-kolong eks tambang sebagai sarana untuk mengembangbiakkan ikan-ikan hias lokal Bangka Belitung yang bernilai, sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Kami akan memberikan dukungan dan rekomendasi kepada KKP untuk segera melakukan kerja sama dengan perusahaan pertambangan serta pemerintah kabupaten/kota di Bangka Belitung yang mempunyai kewenangan atas pengelolaan ikan air tawar ini," pungkas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini