Robinsons Tutup, Kondisi Ritel Indonesia Bisa Hidup tapi Berat

Rina Anggraeni, Jurnalis · Jum'at 30 Oktober 2020 19:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 30 320 2301744 robinsons-tutup-kondisi-ritel-indonesia-bisa-hidup-tapi-berat-8WPP9nPBaa.jpg Mal Dibuka (Foto: Okezone)

JAKARTA - Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) menilai kondisi ritel Indonesia tidak jauh berbeda dengan ritel di berbagai negara. Hal ini dapat dilihat dari penutupan toko atau gerai akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Teranyar, penutupan Robinsons di Singapura. Peritel legendaris yang sudah menjalankan bisnis hingga 1 abad lebih sebagai pengelola department store harus menutup tokonya.

Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan, berkaca kondisi tersebut, industri ritel tidak jauh berbeda dengan ritel di dunia.

"Masih bisa hidup namun berat," ujar Budihardjo saat dihubungi di Jakarta, Jumat (30/10/2020).

Baca Juga: Bisnis 1 Abad Lebih, Akhirnya Robinsons Tutup di Singapura 

Kata dia, kondisi ritel dalam negeri masih kuat dikarenakan masih banyak populasi masyarakat Indonesia serta tidak mengandalkan kedatang turis untuk beberlanja.

"Indonesia ada basis penduduk banyak beda dengan Singapura yang andalkan turis," tandasnya.

Sekadar informasi, operator department store tersebut telah ditutup secara sukarela oleh kreditor. Robinson & Co (Singapura) mengonfirmasi hal itu dalam pernyataannya, Jumat (30/10).

"Kami menyesali hasil ini hari ini. Terlepas dari tantangan baru-baru ini di industri, tim Robinsons terus berupaya mengejar kesuksesan. Namun, lanskap konsumen yang berubah membuat kami sulit untuk berhasil. jangka panjang dan pandemi Covid-19 semakin memperburuk keadaan," ungkap Manajer Umum Senior Robinson & Co Singapura Danny Lim seperti dikutip dari The Business Times.

Tutupnya peritel ini mengakhiri setidaknya enam tahun kerugian yang ditorehkan oleh Robinsons. Catatan keuangan menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian setelah pajak dari operasi yang dilanjutkan sebesar 26,5 juta dolar Singapura pada tahun 2014.

Angka ini semakin merosot hingga tahun 2018, ketika perusahaan mencatat kerugian sebesar 54,4 juta dolar Singapura. Terjadi perbaikan pada tahun 2015, ketika kerugiannya berkurang menjadi 17,4 juta dolar Singapura.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini