Sistem Pangan Tradisional Bikin Tanah Lebih Subur

Michelle Natalia, Jurnalis · Sabtu 31 Oktober 2020 13:48 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 31 320 2301980 sistem-pangan-tradisional-bikin-tanah-lebih-subur-i2Rca2qpGL.jpg Petani (Foto: Okezone)

JAKARTA - World Wildlife Fund (WWF) mengkritik sistem pangan yang terlalu berorientasi pada kebutuhan industri. Pasalnya, sistem pangan seperti ini memiliki dampak destruktif terhadap lingkungan alam.

Deputy Director For Social Development WWF Indonesia Cristina Egenther mengatakan, perlu diterapkan kampanye Pangan Bijak Nusantara untuk mengkonservasi alam dan keberagaman pangan.

Baca Juga: FAO dan MNC Trijaya Gelar 'Food Heroes Day' di Tengah Pandemi

"Perlu diterapkan Pangan Bijak Nusantara untuk mendorong transformasi sistem pangan menuju pangan lokal, sehat, adil, dan lestari bagi produsen dan konsumen di Indonesia," ujar Cristina dalam virtual talkshow WWF di Jakarta, Sabtu (31/10/2020).

Selama ini, sistem pangan industri sering kali mengkonversi alam untuk memenuhi tuntutan industri. Untuk produknya pun, sering kali diterapkan mono-cropping dan juga menggunakan genetically modified organism (GMO).

 

"Dalam prosesnya pun menggunakan input bahan kimia, juga tingkat produksinya lebih tinggi dalam jangka pendek," tambahnya.

Padahal, berdasarkan studi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), jika sistem pangan ini diterapkan terus menerus, kesuburan tanah hanya tersisa untuk 60 tahun.

"Dengan menerapkan sistem pangan yang lebih tradisional dan bersifat agro-ekologi, alam menjadi bagian sistem pangan. Hal itu akan mendorong keanekaragaman sumber pangan dan tanaman, serta benih lokal dengan potensi gizi yang baik," jelas Cristina.

Dengan menerapkan sistem pangan tersebut, siklus restorasi kesuburan tanah akan terjadi secara alami. Tingkat produksinya memang lebih rendah, namun lebih memiliki ketahanan terhadap perubahan iklim.

"Dengan Pangan Bijak Nusantara, sistem pangan yang adil akan dapat memastikan terpenuhinya hak pangan seluruh masyarakat. Sistem yang adil mendukung rantai pasok di mana produsen dan konsumen terhubungkan langsung dan harga adil untuk keduanya," paparnya.

Cristina menambahkan, pangan yang dikelola dengan cara yang ramah lingkungan dan memperhatikan ketahanan ekosistem, ekonomi, dan sosial adalah hal yang penting dalam mewujudkan terciptanya sistem pangan berkelanjutan.

"Keberagaman sumber pangan akan menjamin ketahanan dan kedaulatan pangan di tingkat lokal. Sistem pangan yang sehat bagi alam menjamin kesuburan tanah dan mengurangi unsur kimia akan memproduksi pangan yang sehat bagi tubuh, yang tentu memberikan nutrisi yang baik," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini