Kisah Sri Mulyani: Ekonomi Hancur akibat Perang, Warisan Penjajahan hingga Depresi Hebat

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Minggu 01 November 2020 08:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 01 320 2302233 kisah-sri-mulyani-ekonomi-hancur-akibat-perang-warisan-penjajahan-hingga-depresi-hebat-FxblfvHhyx.jpg Sri Mulyani (Foto: Dok Kemenkeu)

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani membuka kembali kenangan perekonomian Indonesia yang sempat hancur akibat perang dan warisan penjajahan.

“Mulai dari situ tantangan perekonomian yang kita hadapi sangat berat. Perekonomian kita hancur akibat perang dan warisan dari penjajahan dan kas negara dalam situasi yang tiada,” kata acara upacara peringatan Hari Oeang Republik Indonesia (HORI) secara virtual, Sabtu (31/10/2020).

Baca Juga: 10 Kehancuran Ekonomi Kuno Terbesar Sepanjang Masa 

Wajar saja lanjut Sri Mulyani, ketika itu ekonomi Indonesia hancur karena memasuki era kolonialisasi. Apalagi Indonesia dijajah oleh Belanda dan Jepang begitu lamanya.

“Kita mengalami era kolonialisasi yang kemudian menghancurkan perekonomian kita,” ucapnya.

Kini perekonomian Indonesia kembali mendapat tantangan akibat pandemi virus corona atau Covid-19. Ekonomi Indonesia diprediksi mengalami resesi pada kuartal III-2020.

Di sisi lain, Guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia Rhenald Kasali memprediksi resesi yang terjadi di AS bisa memicu depresi atau great depression. Situasi itu adalah sebuah kemunduran besar perekonomian, hampir semua perusahaan bangkrut, tak punya uang, tak ada investasi baru, pengangguran besar-besaran terjadi sehingga satu-satunya sumber pendapatan adalah uang negara.

“Pada saat itu kemiskinan dan kriminalitas merajalela, negara harus turun,” kata Rhenald kepada Okezone, Minggu (2/8/2020).

Baca Juga: Resesi di AS Diprediksi Bisa Memicu Great Depression, Apa itu?

Dia menjelaskan, efek itu juga bisa memengaruhi kondisi perekonomian secara global karena Dollar AS merupakan sebuah mata uang yang sering digunakan dalam perdagangan dunia.

“Memang ada yang berdampak global karena dolar AS adalah mata uang perdagangan dunia. Dan sebagian besar cadangan devisa kita adalah USD dan banyak orang pegang dolar. Resesi di AS diprediksi bisa memicu depresi,” katanya.

Sebagai informasi, istilah great depression muncul ketika AS mengalami krisis ekonomi berkepanjangan selama satu dekade yakni pada tahun 1929 hingga 1939.

Great Depression di negeri Paman Sam ini diawali dengan turunnya harga saham pada September 1929. Puncaknya pada 24 Oktober 1929 dilakukan penjualan saham besar-besaran dalam waktu sehari. Hal ini mengakibatkan indeks saham anjlok pada level yang mengkhawatirkan.

Sementara itu, ekonomi global akan mengalami tahun terburuk sejak masa krisis yang disebut Great Depression akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

Proyeksi Dana Moneter Internasional-International Monetary Fund (IMF) itu tertuang dalam laporan World Economic Outlook.

IMF menyatakan, ekonomi dunia kemungkinan akan mengalami kontraksi 3% tahun ini, penurunan paling tajam sejak Great Depression tahun 1930-an dan jauh lebih buruk daripada kontraksi 0,1% pada masa krisis yang disebut Great Recession tahun 2009.

Ini pertama kali IMF merilis laporan sejak virus corona mewabah Desember lalu. IMF memperkirakan ekonomi global akan pulih pada 2021 dengan pertumbuhan 5,8%. Demikian seperti dikutip VOA Indonesia, Jakarta, Rabu (15/4/2020).

Di lain pihak, ekonom Adam Smith menyebut pada dasarnya manusia adalah makhluk ekonomi (homo economicus), makhluk yang cenderung tidak pernah merasa puas berusaha secara terus menerus dalam memenuhi kebutuhannya.

Prinsip manusia sebagai makhluk ekonomi itulah yang mempengaruhi proses perekonomian dunia sejak zaman dulu. Di luar kemajuannya, ekonomi dunia mencatat setidaknya ada 10 kehancuran ekonomi masa lalu yang pernah melanda dunia.

Salah satunya kehancuran ekonomi konfederasi 1860

Selama Perang Sipil AS, tujuan utama tentara Konfederasi adalah untuk mendapatkan pengakuan diplomatik dari negara-negara Eropa. Karena kapas sangat penting bagi ekonomi Inggris, Prancis, dan negara-negara lain memotong ekspor kapas untuk memaksa pengakuan.

Uni memblokade pelabuhan Konfederasi tetapi tidak pernah dapat secara efisien membatasi blokade Konfederasi. Blokade untuk memotong ekspor kapas hampir memadamkan pendapatan perdagangan Konfederasi.

Kedua faktor tersebut akhirnya menyebabkan inflasi merajalela dan membuat mata uang Konfederasi hampir tidak berharga. Ketika Perang Sipil berakhir, ekonomi Selatan hancur total.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini