5 Fakta Fenomena Gadai Sertifikat Tanah

Fadel Prayoga, Jurnalis · Minggu 15 November 2020 10:32 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 14 470 2309568 5-fakta-fenomena-gadai-sertifikat-tanah-6GD0j4NXXy.jpg Sertifikat Tanah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah Indonesia sedang gencar-gencarnya menerbitkan sertifikat tanah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Sebab, Namun sayangnya setelah mereka menerima sertifikat itu kerap disalahgunakan dengan menggadaikannya dan uangnya dibelanjakan untuk kebutuhan konsumtif.

Terkait hal itu, Okezone telah merangkum beberapa fakta, Jakarta Minggu (15/10/2020).

1. Jokowi Wanti-Wanti Sebelum Gadai Sertifikat

 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada saat pembagian sertifikat tanah selalu memberikan pesan untuk menggunakannya sebaik-baiknya. Utamanya jika sertifikat tersebut digunakan sebagai jaminan pinjaman dana di lembaga keuangan.

“Tapi sebelum pinjam, saya selalu titip, hati-hati dihitung. Bahwa nanti bisa mengembalikan pinjaman itu. Jangan sampai nanti ini sudah dapat uang, nggak bisa mengembalikan, sertifikatnya malah hilang,” katanya saat pembagian satu juta sertifikat, Senin (9/11/2020).

2. Penggadaian Sertifikat Sebaiknya untuk Modal Usaha

Kepala Negara menekankan agar jika mendapat pinjaman dari bank benar-benar semuanya digunakan untuk hal-hal produktif. Seperti untuk modal kerja maupun investasi.

“Jangan dipakai untuk beli mobil. Jangan dipakai untuk beli sepeda motor. Jangan dipakai untuk belikan anaknya HP yang mahal-mahal. Itu namanya konsumtif,” ujarnya.

 


3. Jika Penerbitan Sertifikat Tak Dikebut, Selesainya Memakan Waktu 160 Tahun

Jokowi menegaskan dalam bekerja selalu memasang target. Salah satunya dalam penerbitan sertifikat tanah. Menurutnya sebelum adanya target, sertifikat tanah yang diterbitkan hanya mencapai 500 ribu dalam setahun. Jika tidak ada target penerbitan sertifikat maka diprediksi butuh waktu 160 tahun agar seluruh tanah milik masyarakat memiliki sertifikat.

“Karena di seluruh Tanah Air ini yang harus disertifikatkan ada 126 juta sertifikat. Karena di tahun 2015 baru ada 46 juta sertifikat. Jadi masih kurang 80 juta. Kalau setahun hanya 500 ribu, artinya nunggunya 160 tahun,” ungkapnya.

 

4. Tahun 2019, Terbit 11,2 Juta Sertifikat

Kemudian pada tahun 2016 angka penerbitan sertifikat tanah mulai naik dari 500 ribu menjadi 1,1 juta sertifikat. Kemudian tahun 2017 naik menjadi 5,4 juta sertifikat.

“Dari yang sebelumnya 2015 500 ribu. Naiknya di 2016, 1,1 juta. Masih dua kali, ndak mau saya. Saya mau sepuluh kali. Bisa keluar 5,4 juta di 2017. Artinya ternyata kita bisa. 2018 saya beri target lagi. 9,3 juta bisa keluar. (Targetnya) 9 juta, keluarnya 9,3 juta. Tahun 2019, saya beri target 9 juta keluarnya 11,2 juta sertifikat,” pungkasnya.


5. Pandemi Covid-19 Membuat Kerja Penerbitan Sertifikat Tanah Terhambat

Jokowi menurunkan target penerbitan sertifikat tanah tahun ini. Penurunan ini disebabkan karena adanya pandemi covid-19 yang membuat kerja penerbitan sertifikat tanah terhambat.

“Tahun ini, sebetulnya saya beri target 10 juta. Tapi saya tahu ini ada pandemi, ada hambatan di lapangan maupun di kantor. Oke, saya turunkan dari 10 juta menjadi 7 juta. Dan saya yakin insya Allah ini bisa tercapai,” kata Jokowi.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini