Melihat Dari Dekat Dukuh Pembuatan Ciu, Miras Lokal yang Melegenda Sejak Era Kolonial

Bramantyo, Jurnalis · Minggu 22 November 2020 17:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 22 320 2314005 melihat-dari-dekat-dukuh-pembuatan-ciu-miras-lokal-yang-melegenda-sejak-era-kolonial-NryYl2stRW.jpg RUU Larangan Minuman Beralkohol. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

SUKOHARJO - Aroma khas minuman Ciu begitu terasa saat memasuki Dukuh Sentul, Bekonang, Sukoharjo. Meski bau menyengat, Ciu begitu terasa menusuk hidung, warga didukuh itu sudah terbiasa menghirup aroma Ciu.

Bahkan anak-anak kecil pun terlihat asik bermain diantara tumpukan drum dan botol-botol bekas minuman mineral yang disusun rapi di teras. Padahal bau Ciu begitu menyengat dihidung.

Mayoritas warga yang didaerah ini semuannya memproduksi Ciu ini. Bisa dikatakan, tak ada satupun warga yang tak membuat Ciu.

Pasalnya, dukuh Sentul yang dikukuhkan sebagai sentra pembuatan alkohol ini,sudah ada sejak jaman kolonial Belanda.

Baca Juga: Soal RUU Minol, Petani Arak Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Entah siapa yang mengawali membuat Ciu kala itu.Namun yang pasti sejak zaman kolonial, Ciu kerap dikonsumsi orang-orang Belanda ini, sudah turun temurun.

Tak heran, perekonomian warga di dukuh Sentul ini mapan. Rata-rata warga memiliki mobil dua hingga tiga mobil yang terparkir digarasi rumah.

Rimin Budi Utomo Ketua RW 10 yang juga pembuat Ciu terllihat tengah memproduksi Ciu saat media ini tiba di rumahnya.

Disamping rumah yang sudah disulap sebagai lokasi pembuatan, terlihat kesibukan beberapa pegawai tengah membuat Ciu dan menurunkan botol kosong dari kendaraan keteras rumah.

Setelah menjelaskan maksud kedatangan media ini, Rimin pun mengijinkan media ini melihat dari dekat tempat dimana dirinya memproduksi Ciu.

Terlihat sebuah penyulingan yang dibuat dari drum bekas, berjejer rapih. Layaknya sehuah pabrik besar, disini pun ada tempat penyulingan tetes tebu, bahan utama untuk dibuat menjadi Ciu atau alkohol. Tetes tebu merupakan limbah yang berasal dari produksi tebu di pabrik gula.

"Proses fermentasi kurang lebih 5-6 hari. Saat fermentasi tetes tebu, cairan tetes tebu ini akan mengeluarkan reaksi dengan munculnya gelembung dan suara mendesis,"papar Rimin, Minggu (22/11/2020).

Baca Juga: RUU Larangan Minol Bukan Cuma Faktor Kesehatan tapi Ada Pajak

Jika suara mendesis hilang, tahap pembuatan ciu ketahap berikutnya, dimana Ciu dimasak atau disuling untuk menghasilkan ciu.

"Cara fermentasi penyulingan itu menggunakan tembaga seperti spiral, dimana didalam drum ini berisi air. Fungsi air itu sendiri untuk pendinginan,"terangnya.

"Uap akan mengalir melalui selang dan menghasilkan ciu dengan kadar 30-35 persen,"terangnya.

Menurut Rimin, kadar alkohol didalam Ciu berbeda-beda. Bila cairan etanol murni mencapai 90 persen, bio-eranol sekira 99,5 persen. Sedangkan Ciu sendiri itu sekira 35 persen.

Menurut Rimin, kebanyakan orang tahunya hanya Ciu yang diproduksi di dukuh Sentul ini. Padahal, didukuh Sentul ini setiap harinya memproduksi cairan medis ini.

Meskipun ada pekerjaan sambilan yang dilakukan warga yaitu membuat Ciu. Warga kerap menyuling sisa-sisa cairan etanol yang dicampur dengan tetesan tebu.Hasil penyulingan sisa etanol inilah yang biasanya gemar diminum banyak orang sampai mabuk.

Sambil meihat produksi etanol, Rimin mengatakan kalau RUU Minol disahkan menjadi Minol, terlihat kalau pemerintah tak memiliki hati nurani sama sekali terhadap rakyatnya.

Sebab, mayoritas warga didusun Sentul ini menggantungkan ekonominya dipembuatan etanol.

"Saya minta pemerintah peduli dengan kami. Jangan sampai UU ini disahkan sepihak. Kami juga berhak hidup layak sebagai Warga Negara Indonesia. Kalau RUU Minol itu disahkan, sama saja, kami tak boleh hidup,"papar Rimin.

"Kalau sampai disahkan (RUU Minol), kami mau usaha apa. Itu sama saja Pemerintah tak punya hati nurani,"ujar Rimin.

Menurut Rimin, tak semua warga didukuh Sentul ini memproduksi minuman Ciu seperti banyak anggapan orang luar.

Meskipun selama ini karena biaya produksi pembuatan alkohol cukup mahal, ada yang menyalahgunakan dengan membuat ciu dengan kadar alkohol sekira 25% - 30% yang merupakan produk setengah jadi sebelum diolah menjadi alkohol murni dengan kadar 70% -90%.

"Hanya kelasnya beda-beda, ada kelas A,B, dan C. Jadi kami tidak memproduksi mihol itu,"paparnya.

Diakui, memproduksi ciu lebih cepat dan mendapatkan keuntungan besar karena ada pembelinya. Sementara untuk memproduksi etanol butuh waktu lama.

"Soal RUU larangan mihol, saya juga belum mendapat sosialisasi. Semoga tidak disahkan dan hanya jadi wacana,"terangnya.

Sebaliknya, Rimin meminta agar dusun Sentul dijadikan salah satu destinasi wisata Dengan dijadikan salah satu destinasi wisata, konotasi negatif terhadap dukuh Sentul bisa hilang.

"Bisa lihat langsung proses pembuatannya. Mulai dari tetes tebu hingga menjadi alkohol untuk medis,"pungkasnya. 

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini