Indeks Dolar Kokoh Dipicu Penguatan Data Ekonomi kuat

Selasa 24 November 2020 09:11 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 24 320 2314953 indeks-dolar-kokoh-dipicu-penguatan-data-ekonomi-kuat-7TkLDkqxsY.jpg Dolar AS (Foto: Ilustrasi Shutterstock)

JAKARTA – Indeks dolar AS melonjak terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya dari level terendah hampir tiga bulan pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Dolar menguat ketika data menunjukkan bahwa aktivitas bisnis AS berkembang pada tingkat tercepat dalam lebih dari lima tahun pada November, dan indeks mencapai dukungan teknis yang kuat.

Baca juga: Dolar Kembali Menurun di Tengah Pembicaraan Stimulus Ekonomi

Indeks manajer pembelian (PMI) sektor manufaktur dan jasa IHS Markit, keduanya bahkan melampaui perkiraan paling optimistis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan keduanya akan mendatar, menawarkan penyeimbang data yang menunjukkan momentum ekonomi melambat setelah rebound kuat kuartal ketiga dari penurunan bersejarah musim semi lalu.

"Dolar berbalik lebih tinggi di New York pada Senin (23/11), dengan hasil PMI Markit yang lebih baik menjadi pendorong utama," kata Direktur Pelaksana dan Analisis Mata Uang Global Ronald Simpson di Action Economics, dikutip dari Antara.

Indeks dolar terakhir menguat 0,18% menjadi 92,482, setelah sebelumnya turun ke 92,013, terendah sejak 1 September. Euro melemah 0,10% menjadi USD1,1844.

Greenback juga melonjak 0,63% terhadap safe haven yen Jepang menjadi 104,475 yen.

Banyak analis melihat dolar kemungkinan berkinerja buruk tahun depan ketika pertumbuhan global diperkirakan akan membaik karena vaksin untuk virus corona diluncurkan.

"Itu berarti pelemahan dolar bagi kami karena karakteristik kontrasiklikalnya dolar," kata, ahli strategi valas di UBS Vassili Serebriakov.

Pound Inggris mungkin menjadi salah satu yang berkinerja terbaik terhadap greenback saat diuntungkan dari pertumbuhan internasional yang lebih cepat dan melewati kekhawatiran Brexit yang telah membebani mata uang.

"Kami pikir sterling akan mendapat keuntungan baik dari pemulihan siklikal global ketika cenderung berkinerja baik dalam peningkatan pertumbuhan dan juga akan mendapat manfaat dari gerakan mendekati kesepakatan Brexit, yang menurut kami pasar tidak sepenuhnya memperhitungkan," kata Serebriakov .

Sterling terakhir naik 0,29% menjadi USD1,3322. Sterling didorong oleh optimisme atas vaksin covid-19 dan ketika investor bertaruh Inggris dan Uni Eropa akan mencapai kesepakatan perdagangan Brexit.

Indeks dolar turun sedikit setelah Wall Street Journal melaporkan bahwa Presiden terpilih AS Joe Biden berencana untuk mencalonkan mantan Ketua Federal Reserve Janet Yellen untuk menjadi Menteri Keuangan berikutnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini