Baru Landing Menteri KKP Ditangkap KPK, Ini Aktivitas Edhy Prabowo di AS

Rani Hardjanti, Jurnalis · Rabu 25 November 2020 08:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 25 320 2315646 baru-landing-menteri-kkp-ditangkap-kpk-ini-aktivitas-edhy-prabowo-di-as-p3ReaJU21F.jpg Menteri KKP Edhy Prabowo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penangkapan itu dilakukan sepulang Menteri Edhy dari Amerika Serikat. Apa saja kegiatannya di sana?

Menteri Edhy bertolak ke Amerika Serikat untuk memperkuat kerja sama bidang kelautan dan perikanan dengan salah satu lembaga riset di Negeri Adidaya tersebut. Kerja sama ini dalam rangka mengoptimalkan budidaya udang secara berkelanjutan di Indonesia.

Baca Juga: Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK Terkait Ekspor Benur Lobster

Dalam jadwal, Menteri Edhy Prabowo diagendakan mengunjungi Oceanic Institute (OI) di Honolulu, Negara Bagian Hawaii. OI merupakan organisasi penelitian dan pengembangan nirlaba yang fokus pada produksi induk udang unggul, budidaya laut, bioteknologi, dan pengelolaan sumber daya pesisir secara berkelanjutan. Lembaga ini afiliasi dari Hawai'i Pacific University (HPU) sejak tahun 2003. 

Baca Juga: Edhy Prabowo Ditangkap KPK, Altet Pencak Silat yang Jadi Menteri KKP

"Alhamdulillah pak Menteri telah tiba di Los Angeles untuk transit menjalani tes pcr/swab sebagai syarat wajib masuk Hawaii," ujar Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Agung Tri Prasetyo pada keterangan tertulisnya, Jumat (20/11/2020).

KKP memilih menjalin kerja sama dengan OI menurut Sekretaris Jenderal KKP, Antam Novambar lantaran lembaga ini memiliki teknologi dan para ahli yang mumpuni di sektor budidaya berkelanjutan, khususnya spesies udang. Target dari kerja sama adalah adanya transfer teknologi serta pendampingan teknis di bidang genetika udang dari OI.

Selain itu, KKP berharap mendapatkan grand parent stock (GPS) vaname yang dapat menghasilkan induk-induk unggul, yakni tahan salinitas rendah, toleran terhadap penyakit, dan pertumbuhannya cepat. Bahkan dengan potensi yang dimiliki, Indonesia berpeluang menghasilkan great grand parent stock (GGPS).

"Dengan adanya transfer teknologi dalam menghasilkan induk udang unggul, artinya kita dapat mengurangi ketergantungan dari induk udang impor," jelas Antam.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini