Dolar AS Tertekan, Investor Cari Aset Berisiko terkait Komoditas

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 27 November 2020 07:35 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 27 320 2317068 dolar-as-tertekan-investor-cari-aset-berisiko-terkait-komoditas-RFAxk1sTgV.jpg Dolar AS Melemah (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Indeks dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Kamis, karena data ekonomi AS yang suram dan optimisme tentang vaksin virus corona mendorong investor mencari aset berisiko terkait dengan komoditas global.

Pengamat pasar uang menilai jatuhnya dolar begitu cepat sehingga bisa rebound dalam jangka pendek. Akan tetapi beberapa investor masih mengharapkan penurunan dolar dalam jangka panjang karena mereka mengubah ekspektasi bahwa wabah virus corona segera berkurang tahun depan.

Baca Juga: Dolar AS Turun Sikapi Berbagai Data Ekonomi

"Pemulihan ekonomi global yang dipimpin China dan komoditas akan menguntungkan mata uang komoditas. Mata uang pasar berkembang lainnya dengan fundamental yang baik akan mendapatkan keuntungan," ujar Kpala Strategi Mata Uang Mizuho Securities Masafumi Yamamoto, dilansir dari Reuters, Kamis (27/11/2020).

Baca Juga: Dolar AS Merosot Efek Masa Transisi Biden

Pound Inggris yang diperdagangkan mendekati level tertinggi terhadap dolar karena investor menunggu rincian pembicaraan perdagangan antara Inggris dan Uni Eropa minggu ini. Sterling naik ke level USD1,3392 atau mendekati level terkuat sejak 2 September.

Terhadap euro, dolar berada di USD1,1926, mendekati level terlemah dalam lebih dari dua bulan. Dolar juga sedikit berubah pada 104,32 yen.

Investor bergegas ke mata uang berisiko dan aset pasar berkembang dalam beberapa pekan terakhir setelah data positif tentang kemanjuran vaksin Covid-19 dan tanda-tanda stabilitas dalam politik AS, yang telah membebani dolar secara luas.

Sentimen untuk greenback terpukul setelah data pada hari Rabu menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS naik lebih dari yang diharapkan dan pendapatan pribadi turun.

Indeks dolar terhadap sekeranjang enam mata uang lainnya mendekati level terendah dalam lebih dari dua bulan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini