Erick Thohir: Tim Terbaik Susun Holding Asuransi

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 30 November 2020 19:36 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 30 320 2319051 erick-thohir-tim-terbaik-susun-holding-asuransi-dEwgkIHzYY.jpg Menteri BUMN Erick Thohir (Okezone)

JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan, bahwa tim yang tengah bekerja untuk pembentukan holding BUMN perasuransian dan penjaminan adalah tim terbaik. Mereka adalah orang-orang yang memiliki track record, profesionalitas dan kredibilitas yang tidak bisa diragukan.

Pernyataan tersebut disampaikan Erick dalam rapat kerja (Raker) bersama Komisi VI DPR pada Senin (30/11/2020). Erick mengaku, tugas yang dijalankan tidak sempurna. Meski begitu, sesuai tugas atau tupoksi yang dilakukan saat ini, korporasi asuransi dan dan penjaminan yang dipimpin oleh Indonesia Financial Group (IFG) sebagai induk holding akan bisa bersaing secara terbuka.

 Baca juga: Sah, Jokowi Beri Restu Pembentukan Holding Aviasi dan Pariwisata

"Tentu kami yang ditugaskan tidak mungkin sempurna dalam bekerja, tentu ada kekurangannya, tapi percaya sesuai dengan tugasnya dengan tupoksi, kami ingin membangun korporasi yang bisa bersaing dalam persaingan terbuka ini," ujar Erick.

Pemerintah meyakini bahwa holding BUMN tersebut akan sehat dan bisa memberikan deviden kepada negara. Selanjutnya, deviden itu bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat. "Jadi tadi, seperti arahan dari pimpinan dan anggota dewan, tetapi kita bisa menerapkan korporasi yang sehat dan bisa memberikan deviden sehingga devidennya bisa bermanfaat buat rakyat," kata dia.

 Baca juga: RNI Induk Holding Pangan, Erick Thohir: Kita Tak Mau Jadi Menara Gading

Sebelumnya, PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) atau BPUI selaku pihak yang memfasilitasi pembentukan holding perasuransian dan penjaminan plat merah mengajukan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp20 triliun.

Meski begitu, anggota Komisi XI terlebih dulu mencecer Direktur Utama BPUI Robertus Bilitea, sebelumnya dia menyampaikan materi presentasi ihwal alasan perseroan akan menerima PMN senilai Rp20 triliun dan sejumlah catatan ihwal skema pembentukan holding tersebut.

 Baca juga: Pembibitan Sapi Butuh Investasi Jangka Panjang, Diperlukan BUMN Pangan

"Bapak dan Ibu Komisi XI DPR yang terhormat sebelum kami menyampaikan presentasi ini, ada dua hal yang akan kami sampaikan terlebih dahulu. Pertama, skema yang kami tampilkan dalam persoalan Jiwasraya adalah mengedepankan perlindungan konsumen atau para pemegang polis," ujar Robertus saat memulai presentasi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) beberapa waktu lalu.

Dalam bahan presentasi awal, dia mengutarakan, skema penyelamatan Jiwasraya yang dilakukan pihaknya bersama Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan mengedepankan Undang-Undang (UU) terkait sektor finansial yang bernafaskan perlindungan konsumen.

Baik UU Asuransi, UU Perbankan, maupun UU yang mengatur secara spesifik terkait institut-institusi yang menaungi atau menyusun regulasi tentang industri sektor finansial, seperti, aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS).

"Karena kita menggunakan pendekatan perlindungan konsumen atau pemegang polisi, maka kami bersama-sama dengan Kementerian BUMN melakukan model penyelamatan pemegang polis dengan menggunakan dua institut. Institut pertama adalah Jiwasraya yang saat ini mengalami kesulitan likuiditas dan kesulitan solvabilitas sehingga mereka (manajemen) tidak mampu melayani kewajibannya kepada nasabah mereka," katanya.

Sementara di sisi, solvabilitas manajemen juga mengalami ekuitas yang cukup dalam sehingga manajemen tidak bisa melakukan going konsen. Karena itu, Kementerian BUMN dan PBUI menggunakan IFG sebagai langkah penyelamatan pemegang polis. "nanti akan kami jelaskan," katanya.

Namun, bahan presentasi tersebut justru ditolak oleh Komisi XI DPR. Bahkan, menyebut bahan yang disediakan tidak memenuhi syart untuk mendapatkan PMN.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini