Dolar AS Jatuh ke Level Terendah dalam 2,5 Tahun, Wah Kenapa Nih?

Rabu 02 Desember 2020 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 02 320 2319951 dolar-as-jatuh-ke-level-terendah-dalam-2-5-tahun-wah-kenapa-nih-n75asKcEym.jpg Dolar AS (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah dalam lebih dari 2,5 tahun pada akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB).

Dolar AS melemah saat minat investor terhadap mata uang berisiko meningkat di tengah prospek stimulus fiskal lebih lanjut dari Amerika Serikat serta ekspektasi pemulihan global yang solid.

Berita tentang RUU COVID yang diusulkan semakin menjatuhkan dolar, begitu pula dimulainya kembali pembicaraan antara Menteri Keuangan AS Steve Mnuchin dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Nancy Pelosi pada Selasa (1/12/2020) tentang paket stimulus.

RUU bantuan yang diusulkan sebesar USD908 miliar akan mendanai langkah-langkah hingga 31 Maret, termasuk USD228 miliar dana perlindungan gaji tambahan untuk hotel, restoran, dan bisnis kecil lainnya.

“Pedagang sedang mencari alasan untuk memburu mata uang berisiko dan itu datang dengan mengorbankan dolar,” kata John Doyle, wakil presiden transaksi dan perdagangan di Tempus, Inc. di Washington.

Baca Juga: Dolar AS is Back, Menang Lawan Yen hingga Euro 

"Ketika Anda mendapatkan laporan bahwa kesepakatan stimulus bipartisan dapat dilakukan setelah harapan pupus, itu hanyalah alasan lain untuk mengajukan tawaran berisiko dan menjual dolar," tambahnya.

Pelosi mengatakan pada Selasa (1/12/2020), Mnuchin akan meninjau proposal Senat bipartisan serta rencana bantuan COVID Senator Charles Schumer.

 Rupiah Menguat 40 Poin dari Dolar AS di Tengah Ancaman Korona

Mata uang yang berkembang pada saat terjadi selera risiko seperti euro, sterling, serta dolar Australia, dan Selandia Baru semuanya naik terhadap greenback.

Euro dan dolar Selandia Baru keduanya mencapai tertinggi 2,5 tahun.

Sementara itu, Bitcoin juga melonjak, mencapai rekor tertinggi hanya sedikit di bawah USD20.000. Mata uang virtual itu terakhir turun 3,8% pada USD18.961. Demikian seperti dilansir Antara, Jakarta, Rabu (2/12/2020).

Dalam perdagangan sore, indeks dolar melemah 0,7% menjadi 91,318, setelah mencapai 91,263, terendah sejak akhir April 2018.

Euro mencapai level tertinggi 2,5 tahun terhadap dolar pada USD1,2055 dan terakhir diperdagangkan 1,0% ebih tinggi pada USD1,2049.

"Argumen teknis yang mendukung kenaikan euro dalam jangka pendek hingga menengah cukup menarik," kata Scotiabank dalam catatan penelitian.

"Aksi harga November secara keseluruhan bullish untuk euro, terobosan dari konsolidasi (paruh kedua) menunjukkan potensi kenaikan menuju 1,25-1,26 dolar AS."

Sterling naik ke puncak tiga bulan terhadap dolar setelah Times Radio mengatakan pembicaraan kesepakatan perdagangan Brexit telah memasuki tahap negosiasi "terowongan". "Terowongan" adalah istilah untuk tahap akhir yang intens dari negosiasi rahasia, berhasil atau menghancurkan.

Pound terakhir naik 0,7% pada 1,3410 dolar AS.

Kekhawatiran tentang meningkatnya kasus virus corona belum memberi dolar banyak dukungan safe-haven. Spekulasi juga berkembang bahwa Federal Reserve akan bertindak untuk mendukung perekonomian melewati musim dingin yang berat sebelum vaksinasi tersedia. Itu selanjutnya akan membebani dolar.

The Fed bertemu untuk menetapkan kebijakan pada 15-16 Desember.

Ketua Fed Jerome Powell dan Menteri Keuangan Mnuchin pada Selasa (1/12/2020) juga mendesak Kongres untuk memberikan lebih banyak bantuan bagi usaha kecil di tengah pandemi virus corona yang melonjak dan kekhawatiran bahwa bantuan dari vaksin mungkin tidak tiba pada waktunya agar mereka tidak gagal.

Dolar Selandia Baru mencapai level tertinggi sejak Juni 2018 dan terakhir naik 0,7%. pada 0,7055 dolar AS, sementara dolar Kanada naik terhadap greenback, yang turun 0,4% menjadi 1,2954 dolar Kanada. Data menunjukkan ekonomi Kanada tumbuh 40,5%secara tahunan di kuartal ketiga, pulih dari penurunan bersejarah di kuartal kedua.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini