Wacana Perbankan Batasi Pembiayaan Perumahan, Ini Dampaknya

Aditya Pratama, Jurnalis · Selasa 29 Desember 2020 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 29 470 2335622 wacana-perbankan-batasi-pembiayaan-perumahan-ini-dampaknya-pDyeulnn2c.jpg Perbankan Berencana Batasi Pembiayaan Rumah. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Perbankan berencana membatasi pembiayaan perumahan. Hal ini merupakan akibat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia pada tahun ini.

Menurut Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus, jika ada pembatasan pembiayaan dari perbankan untuk sektor perumahan, maka akan berpotensi penurunan konsumsi pada sektor properti.

Baca Juga: BI Diminta Keluarkan Kebijakan untuk Kerek Pertumbuhan Kredit

"Kita tahu bahwa investasi yang cukup itu berada di sektor konstruksi, jadi investasi di properti ini salah satu yang tertinggi di antara sektor-sektor lainnya. Dengan adanya pembatasan pembiayaan, maka ini membatasi konsumen untuk mengajukan pembiayaan sehingga saya pikir konsumsi sektor properti akan melambat," ujar Ahmad dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (29/12/2020).

Selain adanya penurunan konsumsi pada sektor properti, implikasi lain dari pembatasan pembiayaan sektor perumahan juga akan berdampak dengan terkoreksinya sisi supply investasi.

Baca Juga: Kredit Masih Terpusat di Jawa, Jokowi Beri Catatan Ini

"Namun dengan kondisi yang kita tahu saat ini bagaimana banyak sekali yang melakukan restrukturisasi, kemudian melihat dari NPL (Non Performing Loan) cenderung meningkat dan risiko-risiko menimbulkan gejolak perbankan diredam sebisa mungkin tapi sayangnya salah satunya dengan membatasi pembiayaan di sektor properti," kata dia.

Dengan adanya wacana pembatasan pembiayaan perumahan, Ahmad menilai hal ini merupakan suatu hal yang wajar karena di masa pandemi Covid-19 terdapat gejolak supply dan demand yang salah satunya berdampak pada sektor properti.

"Nah dengan membatasi pembiayaan ini kan berarti perbankan ingin meredam risiko seperti NPL yang diprediksi akan semakin tinggi, kemudian kredit macet, ini lah yang saya kira menjadi pilihan yang sulit ya," ucapnya.

"Di satu sisi sebenarnya properti masih menjadi sektor yang prospektif dalam membangun Indonesia, tapi di tengah pandemi ini terlihat bahwa sektor properti mengalami kenaikan yang harus menjadi perhatian," sambungnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini