Okupansi Anjlok, Mal Kian Sepi Gegara Covid-19

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 06 Januari 2021 13:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 06 470 2339824 okupansi-anjlok-mal-kian-sepi-gegara-covid-19-bYG31qLkST.jpg Mal (Foto: Ilustrasi Okezone.com)

JAKARTA - Pandemi virus corona (covid-19) mempengaruhi kinerja dari para pelaku usaha tak terkecuali juga para pengusaha ritel. Salah satu buktinya adalah terjadi penurunan tingkat okupansi pada pengunjung mal selama 2020.

Senior Associate Director Collier International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, okupansi ritel mengalami penurunan yang cukup drastis di sepanjang 2020. Secara khusus penurunan yang tinggi adalah di daerah Jabodetabek.

Baca Juga: Tak Tahan Covid-19, Mal di Indonesia Banyak Dijual

Untuk daerah Jakarta misalnya, untuk kawasan Central Business District (CBD) okupansi turun dari 83,5% pada tahun 2019 menjadi 80,7% pada tahun 2020. Sementara untuk daerah yang mengalami penurunan cukup tinggi adalah daerah Bogor yang penurunannya mencapai 20%.

"Kita bisa lihat di beberapa wilayah Jakarta, di CBD misalnya 83,5% tahun lalu turun 80,7%. Penurunan ini angkanya tidak terlalu tinggi tapi dari salesnya sangat berpengaruh. Di Bogor penurunannya paling signifikan bisa sampai 20%," ujarnya dalam paparan virtual, Rabu (6/1/2021).

Baca Juga: PSBB Transisi Diperpanjang, Pengelola Mal: Lebih Baik Dibanding Diperketat

Khusus daerah di DKI Jakarta, penurunan okupansi ini dikarenakan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov). Adanya PSBB tersebut mempengaruhi minat masyarakat untuk masuk atau berbelanja di mal.

"Ini semua karena memang sektor ritel terpengaruh dengan PSBB yang dilakukan oleh Pemprov DKI. PSBB itu menurunkan minat orang atau menahan orang untuk tidak masuk mal," jelasnya.

Padahal menurut Ferry, bisnis dari ritel termasuk pusat perbelanjaan adalah yang sangat bergantung pada mobilitas dan keramaian. Namun menurutnya, hal tersebut sangat wajar mengingat kebijakan PSBB yang dilakukan adalah untuk menekan angka penyebaran virus corona.

"Padahal mal itu mereka butuh keramaian kerumunan, sedangkan kerumunan ini hal-hal yang dihindari selama pandemi dan itu tidak bisa dipungkir mempengaruhi kinerja dari para peritel," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini