RI Tingkatkan Akses Listrik dengan Harga Terjangkau

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Rabu 13 Januari 2021 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 13 320 2343805 ri-tingkatkan-akses-listrik-dengan-harga-terjangkau-SCBusDLbkm.jpeg Pembangunan Pembangkit Listrik. (Foto: Okezone.com/Dok. PLN)

JAKARTA - Pemerintah berkomitmen memberikan akses layanan listrik dengan kualitas baik, harga terjangkau dengan tetap memperhatikan prinsip pemerataan, efisiensi, dan dampak terhadap lingkungan.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Munir Ahmad pada pembukaan acara Indonesia-Japan Workshop on VRE System Integration, Hydrogen, and Low Carbon Technologies 2021.

Munir mengatakan, saat ini pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan di Indonesia sampai dengan semester I-2020, telah terpasang sekitar 71 GW pembangkit, 61.000 kilometer sirkit (kms) jaringan transmisi, 150.000 MVA Gardu Induk (GI), 995.000 kms jaringan distribusi, dan 61.000 kms gardu distribusi.

Baca Juga: Mulai Besok Kegiatan di Jawa Bali Dibatasi, Pasokan Listrik Bagaimana?

"Semua itu bertujuan agar seluruh masyarakat Indonesia dapat menikmati akses layanan listrik dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau," ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (13/1/2021).

Munir menjelaskan, selama enam tahun terakhir pelayanan akses listrik terus membaik seiring meningkatknya Rasio Elektrifikasi (RE) nasional dari tahun 2014 sebesar 14,85% menjadi 99,20% berdasarkan prognosis perhitungan di tahun 2020. Pemerintah bahkan menargetkan rasio elektrifikasi sebesar 100% di akhir tahun 2024.

Baca Juga: Dapat Diskon Tarif dan Token Listrik Gratis, Ini 4 Faktanya

"Pemanfaatan listrik juga terus didorong untuk kegiatan produktif yang mampu untuk memutar roda perekonomian nasional," jelasnya.

Berdasarkan hasil perhitungan, prognosis konsumsi listrik per kapita nasional pada tahun 2020 mencapai 1.089 kWh, dengan proporsi pemanfaatan untuk sektor rumah tangga sebesar 38%, sektor industri sebesar 41%, sektor bisnis sebesar 15%, dan sisanya adalah sektor publik sebesar 6%.

Munir melanjutkan, guna meminimalisir terhadap lingkungan dan menjaga kesimbangan keseimbangan supply and demand energi listrik secara berkesinambungan, pemerintah tengah mendorong pengembangan pembangkit tenaga listrik berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT), pemanfaatan teknologi High Efficiency Low Emission (HELE) pada PLTU, pengalihan bahan bakar yang lebih rendah karbon, penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB), dan kompor induksi listrik.

"Berbagai upaya terus dilakukan agar teknologi terkini terkait energi bersih dapat diimplementasikan secara masif di Indonesia dan tentunya dengan nilai keekonomian yang wajar," ungkapnya.

Pemanfaatan hidrogen dan Carbon Capture Storage (CCS)/Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) masih terus dikembangkan. Pemetaan potensi dan kajian terkait pengembangan pemanfaatan hidrogen dan CCS/CCUS di Indonesia telah cukup banyak dihasilkan dan dipublikasikan. Kerja sama dengan berbagai pihak dan investor terus dilakukan supaya teknologi terkini dapat diimplementasikan dalam nilai keekonomiannya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini