Share

Pefindo Turunkan Peringkat 7 Perusahaan, Ini Daftarnya

Hafid Fuad, Jurnalis · Senin 18 Januari 2021 13:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 18 278 2346350 pefindo-turunkan-peringkat-7-perusahaan-ini-daftarnya-h9lEgTETzm.jpeg Grafik Ekonomi (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat tujuh perusahaan di sektor keuangan. Pefindo juga merevisi outlook 45 perusahaan menjadi negatif tahun ini,

Analis dari lembaga pemeringkat Pefindo, Hasnalia Hanifah, menyatakan ada harapan positif untuk perbaikan perekonomian di 2021. Namun tekanan masih ada dan ini ditandai dengan revisi outlook untuk 45 perusahaan menjadi negatif di 2021.

Baca Juga: Pefindo Beri Cap Stempel Negatif untuk Sektor Properti

"Walaupun di 2021 akan lebih baik tapi tantangannya pada seberapa cepat akselerasi perbaikan yang bisa dilakukan," ujar Hasnalia dalam siaran live Market Review di IDX Channel hari ini di Jakarta.

Dia menjelaskan dari 45 perusahaan yang direvisi outlooknya setidaknya terdapat 7 perusahaan dari industri jasa keuangan yang turun menjadi negatif. Ketujuh perusahaan tersebut adalah Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, Bank Mayapada, PT Usaha Pembiayaan Reliance Indonesia, Trimegah Sekuritas, Bank Victoria International, Bank Capital Indonesia, dan Mandala Multifinance.

Baca Juga: Penerbitan Surat Utang Korporasi Diprediksi Turun 30%

"Perkembangannya akan kami pantau selalu. Ke depannya akan tergantung masing-masing perusahaan karena model bisnisnya berbeda dan karakter pelanggan mereka juga berbeda," jelasnya.

Lebih lanjut dia menambahkan ada harapan positif karena ada perbaikan kualitas aset industri jasa keuangan sepanjang Juli hingga November tahun lalu. Kondisi yang mulai membaik tersebut didukung insentif dari berbagai pemerintah sehingga fungsi intermediasi bank tetap stabil.

"Tapi secara Return on Assets atau bottom line dari profit perbankan dan multifinance terlihat masih belum pulih dibandingkan sebelum pandemi. Ini karena mereka masih terbebani biaya provisi yang tinggi karena meningkatnya risiko kredit dan pembiayaan. Selain itu juga terdapat penurunan revenue karena restrukturisasi kredit yang harus dilakukan," jelasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini