Erick Thohir: Penetrasi Bank Syariah Indonesia Tertinggal Jauh dari Malaysia

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Jum'at 22 Januari 2021 19:51 WIB
https: img.okezone.com content 2021 01 22 320 2349283 erick-thohir-penetrasi-bank-syariah-indonesia-tertinggal-jauh-dari-malaysia-69EhlKoKlN.jpg Menteri BUMN Erick Thohir (Foto: Kementerian BUMN)

JAKARTA - Penetrasi perbankan syariah Indonesia masih tertinggal jauh dengan negara-negara muslim lainnya. Negara-negara yang dimaksud adalah Turki, Yordania, dan Malaysia.

Dari data yang dikantongi, penetrasi bank syariah di Tanah Air tercatat rendah jika dibandingkan dengan tiga negara berpendudukan muslim tersebut. Di mana, penetrasi bank syariah Indonesia berada di level 4,1%, Malaysia 29%, Yordania 16,4%, dan Turki 6,1%.

Baca Juga: Merger Bank Syariah Bikin Perbankan Lain Semakin Kuat

"Data penetrasi bank syariah kita masih rendah kalau kita bandingkan dengan Turki dan Yordania. Jangan bandingkan dengan Malaysia, padahal tetangga tapi jauh sekali," ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam Webinar, Jumat (22/1/2021).

Sebab itu membuat Mantan Bos Inter Milan harus merealisasikan merger bank syariah BUMN dengan harapan mampu memperkuat fundamentalnya. Langkah itu dibarengi dengan proyeksi bahwa Bank Syariah Indonesia akan mampu menempati posisi terbaik sebagai bank syariah di tingkat global. Proyeksi itu pun seiring dengan potensi pengembangan modal bank syariah BUMN yang mencapai Rp225 triliun.

Baca Juga:  Duh, Literasi Bank Syariah Baru 37,72% Berbeda Jauh dengan Konvensional

"Kita liat opportunity penggabungan Himbara fokus syariah kita ingin hasil merger ini bisa membuktikan sebagai negara mayoritas muslim punya bank syariah kuat secara fundamental. Dan kalau berjalan baik hasilnya masuk top 10 secara aset dengan modal pada Februari ini di awal Rp225 triliun. Ini menjadi nilai kompetitif yang kita bisa bersaing dengan bank lain," katanya.

Kepemilikan modal dan aset besar membuat Bank Syariah Indonesia bisa meraih kepercayaan nasabah lebih tinggi dan mampu menekan biaya yang diperlukan untuk menyalurkan pembiayaan. Pengamat Ekonomi Syariah dari IPB Jaenal Effendi menilai, Bank Syariah Indonesia digadang memiliki total aset hingga Rp240 triliun dengan modal inti lebih dari Rp20,4 triliun.

 

“Dengan menjadi bank yang besar, bank hasil merger dapat meraih tingkat kepercayaan nasabah lebih tinggi serta mampu menawarkan pricing pembiayaan yang lebih kompetitif. Aksi korporasi ini tentunya dapat memperbesar struktur permodalan bank syariah, sehingga dapat mendorong pertumbuhan positif di sektor perbankan syariah,” ujarnya.

Selain mempengaruhi harga pembiayaan, kehadiran Bank Syariah Indonesia juga bisa berdampak pada pengembangan sektor keuangan syariah lain. Jaenal menegaskan, sektor yang akan terdorong perkembangannya antara lain adalah asuransi dan pasar modal syariah.

Dorongan akan dirasakan karena sektor asuransi dan pasar modal syariah selama ini bertumpu pada industri perbankan syariah. Apabila industri perbankan syariah berkembang, maka investasi di pasar modal syariah dan pemanfaatan asuransi syariah dipastikan akan terdongkrak.

Dia juga menyebut, faktor lain yang menjadi katalis pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia adalah regulasi dan perhatian pemerintah terhadap sektor ini. Menurutnya, isi Undang-undang Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, UU 40/2014 tentang Perasuransian, dan UU 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal sangat membantu perkembangan ekonomi syariah beberapa tahun terakhir.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini