5 Fakta Seputar Crazy Rich PIK Helena Lim, Divaksin karena Ikut Menanam Modal

Reza Andrafirdaus, Jurnalis · Sabtu 13 Februari 2021 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 13 455 2361476 5-fakta-seputar-crazy-rich-pik-helena-lim-divaksin-karena-ikut-menanam-modal-EyNNvCddKS.jpg Crazy Rich PIK Helena Lim Divaksin Covid-19. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Crazy rich asal Pantai Indah Kapuk (PIK) Helena Lim tengah disorot lantaran mendapat vaksin Covid-19. Padahal, dia bukanlah bagian dari tenaga kesehatan (Nakes) Indonesia, yang seharusnya mendapat vaksin pertama kali.

Hal ini menjadi kontroversi di tengah pandemi yang boleh dibilang belum mereda. Berikut ini Okezone rangkum beberapa fakta mengenai crazy rich Helena Lim.

1. Divaksin karena Ikut Menanam Modal

Pemilik Apotek Bumi Elly Tjondro berkelit, Helena Lim merupakan partner bisnisnya yang ikut menanam modal, sehingga layak mendapatkan vaksin Covid-19. Hal ini pun didukung Wakil Wali Kota Jakarta Barat, Yani Wahyu Purwoko menegaskan bila Helen merupakan pemilik Apotek Bumi di Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

2. Tidak Harus Disanksi Berat

Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa pada kasus selebgram Helena Lim mendapatkan vaksinasi Covid-19 duluan tak harus diberikan sanksi berat.

Baca Juga: Ini yang Dilakukan Jack Ma saat Menghilang 3 Bulan

"Hal penting yang harusnya dilakukan adalah membenahi masalah ini dan me-review prosesnya. Sebab, kejadian ini menyangkut soal keadilan. Ada pihak yang merasa dirugikan dan ada oknum yang tidak jujur," paparnya saat dihubungi.

Meski begitu, menurut Dicky, jika kasus ini terjadi di Australia, pelaku dinyatakan melakukan tindakan kriminal dengan tuduhan keluar dari antrian untuk mendapatkan vaksin.

Pakar Kesehatan Universitas Indonesia Prof Ari Fahrial Syam pun menerangkan bahwa kasus ini sudah seharusnya masuk ke ranah hukum. "Ya, ini sudah ranah hukum, jadi ada pihak yang berwenang menangani," ungkapnya.

Baca Juga: Harta Orang Terkaya Afrika Masih Kalah Jauh dari Miliarder Hartono Bersaudara

3. Ombudsman Bakal Panggil Dinkes DKI

Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jakarta Raya menyayangkan lolosnya selebgram Helena Lim dan koleganya yang memperoleh vaksin di Puskesmas Kebon Jeruk hanya dengan bermodalkan surat keterangan sebagai mitra salah satu Apotik di Jakarta.

“Ada potensi bahwa ini merupakan fenomena puncak gunung es terkait buruknya database nakes dan alur distribusi vaksin bagi nakes yang berhak mendapatkan vaksinasi tahap awal di Jakarta,” ujar Teguh P. Nugroho, Kepala Perwakilan Ombudsman Jakarta Raya, kepada media dalam keterangan tertulisnya.

Untuk itu, sesuai dengan kewenangan yang dimiliki dalam melakukan pengawasan pelayanan publik di wilayahnya, Ombudsman Jakarta Raya akan meminta keterangan kepada pihak Dinas Kesehatan

Provinsi DKI Jakarta terkait peristiwa tersebut melalui mekanisme pemeriksaan atas prakarsa sendiri (own motion investigation) tanpa menunggu laporan dari masyarakat.

“Pemeriksaan tersebut bukan semata-mata untuk mencari kesalahan, namun lebih ditujukan pada upaya perbaikan yang perlu dilakukan jika ada celah dalam database dan mekanisme distribusi vaksin sesuai dengan ketentuan,” kata dia.

4. Dianggap Merugikan Banyak Orang

Pakar kesehatan Profesor Ari Fahrial Syam menjelaskan bahwa kejadian tersebut ranahnya kepolisian untuk menindaklanjuti. Sebab, ini berkaitan kejujuran seseorang yang merugikan dan meresahkan banyak orang.

"Kalau dia memang bukan nakes, ya berarti dia bohong. Ini harus segera diurus pihak kepolisian. Kasus ini juga dapat mengganggu lancarnya vaksinasi yang sedang dikejar pemerintah," terang Prof Ari saat dihubungi Okezone.

5. Menjadi Viral karena Bukan Prioritas

Polisi memeriksa Puskesmas Kebon Jeruk, di mana selebgram Helena Lim divaksin. Selebgram itu viral karena mendapat suntik vaksin tahap pertama dulu. Padahal prioritas tahap pertama adalah Nakes dan penunjang tenaga pelayanan publik.

Warganet lantas mempertanyakan status Helena Lim yang divaksin terlebih dahulu. Polisi juga datang ke Apotek Bumi yang diakuinya sebagai tempat kerjanya.

Dokter Nazrial Nazar, menyatakan bahwa pemilik apotek bukanlah tenaga kesehatan. Sementara menurut Kemenkes, vaksinasi masyarakat umum paling cepat pada maret 2021.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini