PTBA Incar Cuan dari Bisnis Angkutan Tambang

Kamis 18 Februari 2021 14:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 02 18 278 2364255 ptba-incar-cuan-dari-bisnis-angkutan-tambang-44aiRmm3Z5.jpg Tambang (Shutterstock)

JAKARTA - Kejar pertumbuhan bisnis di tahun 2021, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah mengembangkan proyek baru hingga peningkatan kapasitas angkutan batu bara. Salah satu yang akan mulai dibangun pada tahun ini adalah gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang bekerja sama dengan dengan Air Product and Chemical Inc beserta PT Pertamina (Persero).

Investor Relations Bukit Asam, Finoriska Citraning mengatakan, proyek yang berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan itu akan memproses 1,4 juta ton DME. Proses konstruksi proyek ini akan dimulai pada tahun 2021.

 Baca juga: PTBA Kelebihan Batu Bara, KAI-Pelindo Siap Angkut

”Commercial Operation Date (COD) kami targetkan pada kuartal II/2024,” katanya di Jakarta mengutip neraca.

Selain itu, perseroan juga akan melakukan penambahan fasilitas angkutan batu bara pada jalur kereta api Tanjung Enim-Kertapati dan Tanjung Enim-Tarahan yang ditargetkan beroperasi komersial pada kuartal III/2021. Untuk Tanjung Enim – Kertapati, PTBA sebelumnya telah mencapai target angkutan yang ditetapkan sebesar 5 juta ton per tahun.

 Baca juga: Proyek Gasifikasi Batu Bara Molor, PTBA Hanya Mampu Serap Capex Rp2,7 Triliun

Sejalan dengan hal tersebut, perusahaan tengah menyiapkan peningkatan kapasitas agar rute ini dapat mengangkut sebanyak 7 juta ton batu bara per tahunnya.

Sementara itu, untuk rute Tanjung Enim – Tarahan, peningkatan kapasitas ditargetkan dapat mencapai 25 juta ton per tahunnya. Finoriska mengatakan, saat ini, proses pembangunan jalur dan sistem sinyal kereta telah berjalan.

“Kapasitas transport kami memang harus ditingkatkan, karena lokasi tambang kami di Tanjung Enim yang cukup jauh dengan pelabuhan,” ujar Finoriska.

Selain itu, PTBA juga tengah menyiapkan proyek produksi batu bara menjadi karbon aktif. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan produsen dan pemasok karbon aktif Activated Carbon Technologies Pty Ltd (ACT) yang nantinya juga akan bertindak sebagai offtaker. Dua perusahaan ini telah menandatangani kesepakatan pada akhir Desember 2020.

PTBA akan mengolah sebanyak 60 ribu ton batu bara dan memproduksi karbon aktif sebanyak 12.000 ton per tahunnya. Saat ini, lanjutnya, perseroan sedang front-end engineering design (FEED) dan diharapkan selesai pada 2021. Hingga kuartal III/2020 volume produksi PTBA sebesar 19,4 juta ton, turun 10% dibandingkan dengan kuartal III/2019. Volume itu setara dengan 77% dari target tahun ini yang telah disesuaikan menjadi 25,1 juta ton.

Selain itu, volume penjualan juga menurun 9% secara year on year (yoy) menjadi 18,6 juta ton, sedangkan kinerja angkutan batu bara terjaga di kisaran 17,7 juta ton. Melemahnya kinerja operasional itu juga berpengaruh terhadap kinerja keuangan perseroan. Pada kuartal III/2020, PTBA membukukan pendapatan sebesar Rp12,84 triliun, terkoreksi 20,95% daripada perolehan kuartal III/2019 sebesar Rp16,25 triliun.

Sejalan dengan itu, PTBA juga mencatatkan penurunan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 44,27% menjadi Rp1,74 triliun pada kuartal III/2020 dibandingkan dengan kuartal III/2019 sebesar Rp3,1 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini