7 Fakta Inflasi Februari, Catatan BI hingga Peringatan BPS

Fadel Prayoga, Jurnalis · Sabtu 06 Maret 2021 05:15 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 05 320 2372747 7-fakta-inflasi-februari-catatan-bi-hingga-peringatan-bps-gEsX7uTEWu.jpg Inflasi (Foto: Halomoney)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) merilis hasil penelitian ihwal tingkat inflasi Indonesia di Februari 2021. Dari data Indeks Harga Konsumen (IHK) di 90 kota, 56 kota mengalami inflasi dan 34 kota mengalami deflasi.

Lalu, berapa jumlah persisnya tingkat Inflasi di Februari? Terkait hal itu, Okezone telah merangkum beberap fakta, Sabtu (6/3/2021).

1. Inflasi Februari Sebesar 0,10%

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi ini disebabkan rata-rata harga komoditas yang mengalami kenaikan.

"Terjadi kenaikan inflasinya sebesar 0,10% ujar Suhariyanto dalam virtual, Senin (1/3/2021).

2. Tingkat Inflasi Menurun

Inflasi IHK pada Februari 2021 sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,26% (mtm).

Baca Juga: Kepala BPS Wanti-Wanti Kasus Covid-19 Ganggu Inflasi

Secara tahunan, inflasi IHK Februari 2021 tercatat 1,38% (yoy), menurun dari inflasi bulan lalu sebesar 1,55% (yoy).

3. Daerah Inflasi Tertinggi dan Terendah

Inflasi tertinggi di Mamuju yaitu Sulawesi Barat yang mencapai 1,12%. Lalu, inflasi rendah terjadi pada Tasikmalaya dan Sumenap sebesar 0,02%

4. Penyebab Inflasi Februari 0,10%

BPS mencatat kenaikan harga cabai rawit dan ikan segar menjadi pemicu terjadinya inflasi pada Februari 2021 sebesar 0,10%

Inflasi IHK pada Februari 2021 sebesar 0,10% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,26% (mtm).

Secara tahunan, inflasi IHK Februari 2021 tercatat 1,38% (yoy), menurun dari inflasi bulan lalu sebesar 1,55% (yoy).

Penurunan inflasi inti tersebut didorong oleh penurunan inflasi komoditas emas perhiasan, seiring perlambatan inflasi emas global yang berlanjut.

Baca Juga: Inflasi Februari 0,10%, Ini Catatan dari BI

Selain itu, inflasi inti yang tetap rendah tidak terlepas dari pengaruh permintaan domestik yang belum kuat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi.

5. Kepala BPS Wanti-Wanti Kasus Covid-19 Ganggu Inflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) mewaspadai penyebaran pandemi Covid-19. Menurut Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, bila lengah maka tingkat infeksi Covid-19 akan meningkat. Hal ini membuat kegiatan dan aktivitas masyarakat kembali turun.

"Tentunya ini semua perlu kita waspadai, karena pandemi akan menyebabkan mobilitas berkurang, roda ekonomi bergerak lambat, sehingga berpengaruh ke pendapatan, dan pada akhirnya berpengaruh kepada lemahnya permintaan," ujar Suhariyanto dalam video virtual, Senin (1/3/2021).

Lanjutnya meminta untuk tak henti-hentinya memerangi penyebaran pandemi Covid-19 dengan mempercepat vaksinasi dan rutin menegakkan 5M. Pandemi covid-19 masih menjadi penghambat bagi kegiatan dan aktivitas perekonomian di Indonesia.

"Inflasi ini jauh lebih lambat kalau dibandingkan dengan inflasi bulan lalu, Januari 2021 dengan tingkat inflasi sebesar 0,26% (mtm). Juga lebih lambat dibandingkan posisi Februari 2020 sebesar 0,28% (mtm)," bebernya.

Dia menambahkan Februari 2021, tingkat inflasi tahunannya hanya sebesar 1,38 persen, lebih lambat bila dibandingkan dengan tingkat inflasi Januari 2021 sebesar 1,55% (yoy) maupun ketimbang Februari 2020 sebesar 2,98% (yoy).

"Jadi ini mengindikasikan bahwa sampai dengan akhir Februari 2021, dampak pandemi covid-19 ini masih terus membayang-bayangi perekonomian, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai negara," tandasnya.

6. BI Berkomitmen Jaga Stabilitas Harga

Direktur Eksekutif Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakam, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah.

"Kita perkuat koordinasj baik di tingkat pusat maupun daerah, guna mengendalikan inflasi 2021 sesuai kisaran targetnya sebesar 3,0%±1%," ujar Erwin di Jakarta, Selasa (2/3/2021).

7. Ini Langkah Pemerintah untuk Jaga Inflasi 2021

Langkah strategis yang ditujukan untuk menjaga inflasi dalam kisaran sasaran 3,0±1% pada tahun 2021 mencakup:

- Menjaga inflasi kelompok bahan pangan bergejolak (volatile food) dalam kisaran 3,0% - 5,0%. Upaya ini dilakukan dengan memperkuat empat pilar strategi yang mencakup Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif (4K) di masa pandemi Covid-19.

Selain itu, dengan menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, terutama dalam mengantisipasi kenaikan permintaan menjelang Ramadan dan Idul Fitri pada bulan April dan Mei 2021 serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) lainnya. Implementasi strategi difokuskan untuk menjaga kesinambungan pasokan sepanjang waktu dan kelancaran distribusi antardaerah antara lain melalui pemanfaatan teknologi informasi dan penguatan kerjasama antardaerah;

- Memperkuat koordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam pengendalian inflasi melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pengendalian Inflasi 2021 dengan tema “Mendorong Peningkatan Peran UMKM Pangan melalui Optimalisasi Digitalisasi untuk Mendukung Pemulihan Ekonomi dan Stabilitas Harga Pangan”;

- Memperkuat sinergi antar K/L dengan dukungan pemerintah daerah dalam rangka menyukseskan program TPIP 2021;

- Memperkuat ketahanan pangan nasional dengan meningkatkan produksi antara lain melalui program food estate serta menjaga kelancaran distribusi melalui optimalisasi infrastruktur dan upaya penanganan dampak bencana alam; dan

- Menjaga ketersediaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dalam rangka program Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) untuk mendukung Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini