Viral Teror Debt Collector Tagih Pinjol Ilegal, Satgas Investasi: Harus Diberantas!

Hafid Fuad, Jurnalis · Senin 08 Maret 2021 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 08 622 2374323 viral-teror-debt-collector-tagih-pinjol-ilegal-satgas-investasi-harus-diberantas-g3CdgEe3iD.jpeg Pinjol Ilegal (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Viral debt collector menagih pinjaman online ilegal semakin menjadi-jadi bahkan sampai mengancam keluarga pihak lain. Khususnya Keluarga teman dari si peminjam.

Salah satunya kabar viral di Twitter dari akun @or*inary*mn* soal ancaman debt collector dengan menggunakan foto anaknya.

Kasus itu bermula ketika pesan WhatsApp dari nomor tidak dikenal yang menagih utang temannya. Debt collector tersebut mengancam dengan menggunakan foto anaknya yang diambil dari foto profil WhatsApp.

Baca Juga: Debt Collector Dilarang Menagih di Tengah Corona, Ini Faktanya! 

Atas kasus tersebut Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam L Tobing mengutuk keras pelaku pinjaman online yang mengancam hingga kepada teman-teman debitur tersebut.

"Tindakan pelaku debt collector ini tidak bisa dibiarkan dan harus diberantas," kataTongam saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (8/3/2021).

Dia mengimbau kepada masyarakat yang membutuhkan pinjaman online agar jangan sekali-kali menggunakan pinjaman online ilegal. Karena meminjam dari Pinjaman online ilegal, berarti ada kerugian besar yang harus ditanggung masyarakat.

Mulai dari bunga tinggi, fee besar, jangka waktu pendek, penagihan tidak beretika dan juga teror kepada semua kontak yang ada di HP peminjam.

"Teman-teman peminjam menjadi sasaran penagihan. Karena peminjam ini dengan enaknya memberikan izin kepada pelaku pinjaman online untuk mengakses semua kontak di HPnya," ujarnya.

Dia juga meminta agar jangan sampai ada lagi yang meminjam pada pinjaman online ilegal yang menyebabkan orang lain ikut mendapatkan ancaman.

"Kami sangat mendorong masyarakat yang merasa dirugikan oleh pinjaman online dengan teror, intimidasi atau ancaman agar segera melapor ke polisi untuk dilakukan proses hukum," katanya.

Menurut Perencana Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad, praktik debt collector sejatinya hanya bisa ditanggulangi dengan terus membayar cicilan. Namun untuk tips dia menyarankan agar konsumen memilih leasing, fintech, atau lembaga keuangan resmi lain yang diawasi Otoritas Jasa Keuangan OJK.

"Kalau sudah resmi biasanya tidak terlalu seram debt collectornya. Tapi tetap rasanya sama-sama tidak enak kalau sudah disita debt collector. Sepertinya belum ada perubahan signifikan di lapangan walaupun tidak sekasar seperti dulu," ujar Tejasari.

Dia juga bercerita dari pengalaman nyata salah satu stafnya di tahun 2020 lalu, terpaksa kehilangan motornya karena disita debt collector. Walaupun sudah menggunakan leasing resmi namun tetap tidak ada ampun. Hanya karena tidak sanggup mencicil tiga kali akhirnya harus kehilangan motornya.

"Kejadian nyata pada staff aku di Bogor. Motornya diambil karena tidak bisa bayar 3x cicilan. Jadi masih tetep seperti itu ya debt collector. Seharusnya juga pihak leasing melelang motor tersebut dan mengembalikan uang cicilan yang pernah dibayarkan nasabah. Tapi ini tidak ada," jelasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini