Cerita Petani Jadi Miliarder, Bangun Rumah dan Beli Mobil Gegara Harga Cabai Mahal

Sholahudin, Jurnalis · Selasa 30 Maret 2021 13:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 03 30 455 2386467 cerita-petani-jadi-miliarder-bangun-rumah-dan-beli-mobil-gegara-harga-cabai-mahal-IzAoKvSNgL.jpg Harga Cabai (Foto: Okezone)

MOJOKERTOHarga cabai yang saat ini melejit di pasaran menjadi berkah bagi petani cabai di daerah Dawarblandong, Mojokerto. Mahalnya harga cabai sejak beberapa bulan terakhir bisa mencapai Rp90.000 per kilogramnya.

Kecamatan Dawarblandong merupakan salah satu kecamatan sentra penghasil cabai di Mojokerto. Dalam satu bulan, rata-rata penghasilan petani cabai di daerah tersebut bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Hal tersebut salah satunya dinikmati warga desa Pucuk yang memiliki ratusan hektar lahan yang ditanami cabai. Bahkan, dari hasil penjualan cabai, warga desa tersebut bisa membangun rumah, membeli sepeda motor, bahkan membeli mobil.

Baca Juga: Harga Cabai Rawit Merah Mulai Turun, Tapi Masih di Atas Rp100 Ribu/Kg 

Salah satu petani cabai, Umiyati mengatakan dirinya bisa membangun rumah sejak satu bulan terakhir dari hasil panen cabai. Berkat mahalnya harga cabai di pasaran, dia mendapatkan uang hingga Rp15 juta per minggunya setiap kali panen.

“Satu bulan terakhir dari hasil jual cabai yang harganya Rp90 ribu, panen dapat 90 kilo bisa dapat uang Rp15 juta satu minggu, total sekitar Rp350 juta lebih ya, sekarang pernah harga cabai bisa Rp100.000 udah turun harganya jadi Rp90.000 sampai Rp65.000,” jelas Umiyati, Selasa (30/3/2021).

Adapun Listiyanto, petani cabai yang lain dengan luas lahan mencapai satu hektar, dia menghasilkan sepuluh kali panen cabai dan mendapatkan uang mencapai Rp100 juta. Uang tersebut langsung dia pakai untuk membeli mobil.

“Beli mobil dengan sepuluh kali panen, harga cabai macam-macam, ada Rp90 ribu, Rp70 ribu, atau Rp80 ribu ya masih lebih baik dari dulu paling murah 5 ribu 4 ribu, sekarang naik terus bisa beli mobil dua mingguan dengan luas lahan 800 meter persegi,” ungkap Listiyanto.

Sementara itu, Kepala Desa Pucuk Nanang Sudarmawan mengatakan mahalnya harga cabai meningkatkan perekonomian warga desanya. Harga kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang mencapai Rp90.000 per kilogram dalam jangka waktu yang lama.

Nanang menambahkan, sejak harga cabai mahal dan warga mendapat keuntungan melimpah, Desa Pucuk banyak diserbu para sales, mulai sales kendaraan hingga sales peralatan rumah tangga.

“Alhamdulilah masyarakat Desa Pucuk menikmati hasil cabai mahal, jadi taraf hidup meningkat. Setahu saya banyak yang beli sepeda motor, mobil, renovasi rumah. Sekarang ini harga lumayan mahal hampir dua bulan masih mahal, jadi banyak keluar masuk orang jualan keliling kampung membawa barang seperti spring bed, lemari,” jelas Nanang.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini