Harga Obligasi Indonesia Lesu Tertekan Lonjakan Inflasi AS

Michelle Natalia, Jurnalis · Senin 19 April 2021 19:19 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 278 2397248 harga-obligasi-indonesia-lesu-tertekan-lonjakan-inflasi-as-isQqzV4mIQ.jpg saham (Shutterstock)

JAKARTA - Harga obligasi Indonesia saat ini mengalami pelemahan. Mayoritas surat berharga membukukan pelemahan harga.

Ekonom PT Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan bahwa beberapa minggu terakhir, obligasi Indonesia mengalami tekanan.

 Baca juga: Tambah Land Bank, Adhi Commuter Properti Cari Utang Rp500 Miliar

Hal ini juga disebabkan karena kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang membiarkan inflasi meninggi tanpa mengubah kebijakan akomodatif mereka.

"Ini lebih ke sentimen, terutama di pricing. Karena kalau kita lihat, yield US Treasury juga meningkat drastis untuk yang tenor 10 tahun, karena mereka mengantisipasi lonjakan inflasi," ujar Ahmad dalam IDX Channel Live Market Review di Jakarta, Senin(19/4/2021).

 Baca juga: Indosat Bakal Lunasi Obligasi Rp630 Miliar

Sehingga, yield obligasi di negara-negara berkembang juga mengalami kenaikan. Sementara itu, tren ekonomi China yang sangat membaik juga membuat negara tersebut menjadi tujuan investasi negara-negara berkembang.

"Ekonomi yang tinggi, ekspektasi level perusahaan-perusahaan China juga tinggi, begitu pula labanya akan naik tajam. Jadi prospektif untuk diisi ekuitasnya," tambah Ahmad.

Dari sisi pasar fixed income, Ahmad menilai bahwa Indonesia masih cukup atraktif. Ini lebih mengarah ke bobot alokasi investasi terkait sentimen dari China.

"Kalau kita lihat, dampaknya (China) terhadap obligasi Indonesia belum terlalu signifikan. Sentimennya lebih tajam ke AS," ucapnya.

Dia mengatakan, pasar AS masih menjadi benchmark pasar obligasi, sehingga kalau yield-nya naik, otomatis yield Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya mengikuti.

"Memang di AS kenaikan inflasinya cukup tajam, bulan Maret itu sekitar 2,6%. Sedangkan yieldnya masih di sekitar 1,6%-an. Kalau kita lihat nilai riil yieldnya minus sekitar 1%, artinya kalau mereka investasi di obligasi, ya daya peluang mereka turun," tukas Ahmad.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini