Tanri Abeng Sentil Komisaris BUMN, Kadang Kurang Kompeten Jadi Beban Direksi

Suparjo Ramalan, Jurnalis · Senin 19 April 2021 18:10 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 19 320 2397320 tanri-abeng-sentil-komisaris-bumn-kadang-kurang-kompeten-jadi-beban-direksi-CvkbYWHLF7.jpg Direksi (Shutterstock)

JAKARTA - Ada sejumlah persoalan yang terjadi di internal Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dari perkara strategi bisnis, manajemen perusahaan, hingga perkara kompetensi dewan komisaris.

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Tanri Abeng menilai, kompetensi dewan komisaris masih menjadi masalah krusial bagi kinerja perseroan pelat merah saat ini. Akibatnya, direksi jarang memperoleh dukungan dari dewan pengawas tersebut.

 Baca juga: Pak Erick Thohir, Nih Ada Saran Tanri Abeng Kurangi Utang BUMN

"Masalahnya juga sekarang, di BUMN ini komisarisnya terkadang tidak memberi dukungan karena kurang kompetensi di dewan komisaris, maka direksi tidak mendapat dukungan, tapi terkadang jadi beban bagi mereka," ujar Tanri, Selasa (19/4/2021).

Kinerja BUMN, kata dia, didasarkan pada kebijakan-kebijakan direksi perusahaan. Namun, regulasi akan diimplementasikan secara maksimal bila ada dukungan dari komisaris dan Kementerian BUMN. Masalahnya, penempatan figur komisaris dinilai tidak sesuai sehingga berpengaruh pada kinerja perusahaan.

 Baca juga: Aturan Baru Erick Thohir, BUMN Pindahkan Aset ke LPI

"Ini harus ada kebijakan-kebijakan yang datangnya dari mana? Tentu diawali dengan direksi itu sendiri, direksi harus mendapat dukungan dari dewan komisaris dan Kementerian BUMN," tuturnya.

Tanri sendiri menyarankan agar dewan direksi perlu merubah strategi bisnisnya. Perubahan itu dari strategi utang ke strategi partner. Strategi partner merupakan kerja sama atau aliansi antara BUMN dengan perusahaan multinasional yang memiliki sumber daya yang mumpuni.

Strategi aliansi ini diyakini mampu mendorong kinerja perusahaan negara dan membebaskan perusahaan dari belenggu utang. Perusahaan multinasional yang menjadi mitra BUMN adalah mereka yang memiliki keuangan yang stabil, teknologi terbaru, manajemen yang baik (best practice manajemen), hingga akses pasar yang luas.

"Jadi perubahan (strategi) utang bon kepada strategis aliansi ini menarik sekali, saya kira ini bisa berlangsung," tutur dia.

Dalam proses kerja sama itu, korporat multinasional akan membawa dolar, teknologi, dan best practice manajemen yang bisa dimanfaatkan manajemen BUMN. Pemanfaatan sumber daya itu diyakini mampu memperbaiki kinerja perseroan kedepannya.

"Aliansi strategis dengan perusahaan multinasional yang bisa membawa uangnya pasti dolar yang dia bawa masuk. Kedua dia pasti bawa teknologi dengan demikian ada jaminan bahwa bisnisnya akan berjalan dengan baik, bahkan mereka bisa membawa best practice manajemen atau manajemen yang bagus yang terakhir mereka memiliki akses pasar," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini