Cara Mengelola Keuangan di Bulan Ramadhan, Hemat dan Tak Boros

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Jum'at 23 April 2021 05:03 WIB
https: img.okezone.com content 2021 04 22 622 2398859 cara-mengelola-keuangan-di-bulan-ramadhan-hemat-dan-tak-boros-wERXu54CGa.jpg Tips Mengatur Keuangan Selama Ramadhan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Merencanakan keuangan selama bulan Ramadhan sangat penting. Bulan ini merupakan moment di mana harga-harga barang pokok serba naik dan banyak orang yang memiliki alokasi pengeluaran khusus untuk kebutuhan takjil dan sahur.

Pengeluaran pun akhirnya menjadi meningkat selama bulan puasa. Orang juga cenderung boros dari sisi konsumsi, terutama untuk menyiapkan sajian takjil.

Perencana Keuangan Eko Endarto menilai, ketika puasa orang jadi tidak makan siang dan aktivitas cenderung berkurang, seharusnya orang bisa menjadi lebih hemat.

Dia memberikan langkah-langkah untuk tidak boros bahkan bisa mengurangi pengeluaran saat bulan puasa, yaitu dengan mengurangi terlebih dahulu budget atau anggaran selama bulan puasa minimal 10% sampai 15% dibandingkan dengan pengeluaran bulan-bulan lain.

Baca Juga: Cara Jajan Takjil agar Tidak Boros

“Pertama mereka harus tahu dulu tiap bulannya pengeluaran berapa, itu kuncinya. Karena dari situ kita bisa membandingkan dengan kebutuhan di bulan Ramadan. Ketika sudah tahu jumlahnya maka tinggal dikurangi saja langsung, misalnya 10-15% dari pengeluaran bulanan biasa dan hiduplah dengan itu selama bulan puasa,” jelas Eko kepada Okezone, Jumat (23/4/2021).

Dia menambahkan, hal tersebut bisa ampuh karena orang cenderung merasa uangnya berlebih karena kurangnya kebutuhan konsumsi di bulan puasa dan akhirnya ingin membelanjakan semuanya untuk berbelanja.

“Kita pasti merasa uang kita berlebih, karena kita tidak makan atau beli cemilan siang-siang jadi uang kita lebih, sehingga kita seperti diperbolehkan belanja lebih banyak. Masalahnya ketika sudah terbiasa banyak, menurunkannya jadi susah. Jadi dimulai dari tadi, tahu angka pengeluaran, kurangkan 10-15%, dan hiduplah dengan itu,” tuturnya.

Baca Juga: Pengeluaran Naik Ketika Ramadhan, Apa Masalahnya?

Selain dari sisi konsumsi, ada lagi kebutuhan khas bulan Ramadan yang dipengaruhi oleh gaya hidup, yaitu mempersiapkan bingkisan lebaran atau hampers. Saat ini sudah menjadi tren terutama di kalangan ibu-ibu di perkotaan besar yang saling memberikan bingkisan kepada sanak saudara atau teman.

Perencana keuangan Agustina Fitria memberikan saran bagaimana mengelola anggaran untuk persiapan bingkisan lebaran atau hampers ini, yaitu dengan tidak menggunakan pemasukan bulanan. Sebaiknya persiapkan hal tersebut dengan menggunakan pemasukan dari THR.

“Saran saya kalau memang mau bikin hampers itu pakai budget THR saja, jadi bukan pake budget bulanan. Jadi sudah dipersiapkan, misal di bulan ini tidak mudik jadi dialihkan tadinya anggaran buat mudik jadi buat hampers, tetap tidak pakai uang bulanan,” ucap Agustina.

Selain itu, kebutuhan bulan Ramadan juga bertambah karena adanya alokasi khusus untuk keperluan ibadah, salah satunya untuk sedekah atau zakat. Namun hal tersebut, seharusnya tidak membuat seseorang boros. Karenanya butuh pengelolaan keuangan yang baik.

“Pengeluaran lain yang memang sifatnya kewajiban agama ya harus ditunaikan, harusnya itu tidak membuat jadi lebih boros. Misal buat sedekah, itu menurut saya bukan bagian dari pemborosan, tapi harus ada alokasinya. Jadi kalau kita sudah bisa mengurangi konsumsi bisa dialihkan jadi sedekah dan donasi bahkan bisa lebih banyak justru,” terangnya.

Sama halnya dengan Eko Endarto. Dia berpendapat hakikat Ramadan adalah berbagi dengan sesama. Dengan berkurangnya pengeluaran, anggaran tersebut bisa dialihkan untuk bersedekah kepada yang lebih membutuhkan.

“Harusnya ketika kita mengurangi aktivitas kita, mengurangi konsumsi kita, dari kelebihan itu bisa kita bagikan. Hakikat Ramadan kan seperti itu, saling berbagi, kalau pas Ramadan kita malah kekurangan, berarti ada yang salah. Tidak sesuai dengan hakikat Ramadhan,” jelas Eko.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini