HERO Masih Rugi Rp1,64 Miliar di Kuartal I-2021, Ini Penyebabnya

Aditya Pratama, Jurnalis · Minggu 02 Mei 2021 13:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 02 278 2404193 hero-masih-rugi-rp1-64-miliar-di-kuartal-i-2021-ini-penyebabnya-YqF8P8gyqn.png Hero Rugi (Foto: Okezone)

AKARTA - PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mencatatkan penurunan rugi bersih pada kuartal I-2021. Pada laporan keuangan per 31 Maret 2021, HERO mencatatkan rugi sebesar Rp1,64 miliar atau lebih rendah 96,22% dibanding 31 Maret 2020 sebesar Rp43,55 miliar.

Dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Minggu (2/5/2021), HERO mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp1,76 triliun atau turun 32,20 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,60 triliun dengan rugi per saham dasar Rp0,4.

Presiden Direktur Hero Supermarket Patrik Lindvall mengatakan, meskipun kerugian tersebut mengecewakan, namun kerugian pada kuartal ini akan jauh lebih besar jika tidak dilakukan pemulihan atas ketentuan kewajiban sewa yang dibukukan pada periode sebelumnya.

Baca Juga: HERO Gigit Jari, Rugi Rp1,9 Triliun akibat Covid-19

Dia menyebut, pendapatan bisnis IKEA dipengaruhi oleh pembatasan kapasitas operasional serta gangguan perdagangan akibat Covid-19 yang sebagian diimbangi oleh pertumbuhan e-commerce yang solid. Total laba operasional dipengaruhi oleh penurunan profitabilitas toko karena pendapatan yang lebih rendah, serta tingginya biaya pra-pembukaan yang dikeluarkan untuk membuka toko-toko baru yang direncanakan akan dibuka pada tahun 2021.

"Selama kuartal tersebut, IKEA Indonesia telah membuka toko ketiganya di Bandung, menandai tonggak penting lainnya dalam perkembangan waralaba di dalam negeri," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Kinerja bisnis kesehatan dan kecantikan Guardian secara signifikan terus dipengaruhi oleh pembatasan terkait pandemi di Indonesia dan perubahan pola belanja pelanggan.

Pengurangan jam operasional, penutupan sejumlah mal, pemberlakuan pembatasan jumlah kapasitas di pusat perbelanjaan, dan berkurangnya jumlah kunjungan pelanggan secara signifikan, semuanya mempengaruhi penjualan dan profitabilitas Guardian.

Kemudian, kinerja keuangan bisnis ritel groseri PT Hero terus terkena dampak secara signifikan oleh pandemi. Pembatasan sosial yang ketat, larangan perjalanan domestik dan khususnya, penutupan atau pemberlakuan pembatasan-pembatasan yang ketat di pusat perbelanjaan/mal telah mengubah pola belanja pelanggan secara substansial dan mengurangi jumlah kunjungan pelanggan ke lokasi-lokasi ini.

Akibatnya, hal ini secara material mempengaruhi kinerja hipermarket sebagai destinasi belanja dalam format besar yang merupakan penyewa utama di pusat perbelanjaan/mal dan merupakan tempat mayoritas di mana area toko-toko Giant berada.

Adapun pendapatan Perseroan terdiri atas pendapatan eceran, pendapatan konsinyasi, potongan rabat dan biaya konsinyasi.

Pendapatan eceran tercatat Rp2 triliun atau lebih rendah dari sebelumnya Rp2,85 triliun; pendapatan konsinyasi tercatat Rp196,04 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya Rp287,96 miliar. Sementara itu, potongan rabat dan biaya konsinyasi tercatat Rp438,95 miliar atau lebih rendah dari sebelumnya Rp543,96 miliar

HERO mencatatkan adanya penurunam beban pokok pendapatan di kuartal I-2021 menjadi Rp1,26 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,89 triliun. Beban usaha juga mengalami penurunan menjadi Rp514,89 miliar dari sebelumnya Rp774,48 miliar.

Hero Supermarket mencatatkan liabilitas sebesar Rp3,26 triliun dan ekuitas Rp1,85 triliun. Adapun total aset perseroan meningkat menjadi Rp5,12 triliun dibanding tahun 2020 sebesar Rp4,83 triliun.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini