Tak Terpengaruh Kemarau, Produksi CPO Diprediksi 55,69 Juta Ton di 2021

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Selasa 04 Mei 2021 16:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 320 2405496 tak-terpengaruh-kemarau-produksi-cpo-diprediksi-55-69-juta-ton-di-2021-HUVbuumnyJ.jpg Sawit (Reuters)

JAKARTA - Musim kemarau tahun 2021 diprediksi tidak berdampak bagi produksi kelapa sawit. Pasalnya, produksi minyak sawit mentah (CPO) masih sesuai target.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memprediksi produksi minyak sawit mentah (CPO) mencapai 48,40 juta ton dan minyak kernel sawit mentah (CPKO) 7,29 juta ton. Sehingga total produksi diprediksi mencapai 55,69 juta ton pada tahun 2021.

Baca juga:  Kasus Covid-19 di India Melonjak, Ekspor Sawit RI Bagaimana?

Ketua Bidang Riset dan Peningkatan Produktivitas Gapki Hasril Hasan Siregar mengatakan, musim kemarau diprediksi akan mundur ke Mei-Juni dan puncaknya pada bulan Agustus serta berpotensi lebih singkat.

"Sesuai kondisi iklim 2019 yang ada kekeringan atau El Nino lemah, 2020 tanpa kekeringan, dan 2021 berpotensi tanpa kekeringan dan mempertimbangkan umur tanaman, maka ada kenaikan produk minyak sawit menjadi 55,69 juta ton pada tahun 2021," ujarnya dalam webinar Ngobrol Bareng Gapki, Selasa (4/5/2021).

 Baca juga: Tantangan Pengembangan Industri Kelapa Sawit Indonesia Timur

Dia menuturkan, meski musim kemarau 2021 diprediksi tidak ekstrim dengan curah hujan normal-atas normal, namun kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tetap diperlukan dengan mengutamakan persiapan dan upaya pencegahan. Karhutla berdampak kerugian bagi tanaman kelapa sawit.

"Kebakaran terhadap tanaman kelapa sawit akan berdampak kerugian investasi karena tanaman akan stagnan 1-3 tahun hingga mati jika titik tumbuhnya terbakar," jelasnya.

Ketua Umum Gapki Joko Supriyono mengatakan, pelaku usaha di sektor perkebunan harus bisa melakukan mitigasi terkait prediksi iklim yang akan berpengaruh pada produktivitas tanaman sawit.

"Kita perlu mencari tahu bagaimana mengelola, beradaptasi, dan mitigasi risiko seperti kebakaran hutan dan lahan. Ini yang menjadi penting sekali," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini