Sikap Profesionalisme Seorang Pemimpin Ketika Bekerja, Sesuai Ajaran Nabi Muhammad SAW

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Minggu 09 Mei 2021 03:32 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 04 455 2405191 sikap-profesionalisme-seorang-pemimpin-ketika-bekerja-sesuai-ajaran-nabi-muhammad-saw-hzztd8EOG0.jpg Al-Quran (Foto: Ilustrasi Freepik)

JAKARTA – Dalam sebuah struktur perusahaan tentunya ada seorang atasan atau pemimpin yang bertanggung jawab atas seluruh kegiatan bisnis. Kita mengenal banyak sekali jenis pemimpin, ada pemimpin otoriter yang tidak peduli dengan suara karyawannya, sampai dengan pemimpin yang demokratis.

Sejatinya, pemimpin diharuskan memiliki sikap profesionalisme ketika bekerja. Dengan begitu, dia tidak hanya mampu berbisnis dan menjual produknya dengan baik, tapi juga memberdayakan kompetensi dan potensi karyawannya agar produktivitas perusahaan juga meningkat.

Baca Juga: Kunci Sukses Promosi Ala Nabi Muhammad SAW, Menghindari Sumpah Berlebihan

Dikutip dari buku Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, Minggu (9/5/2021), sikap profesionalisme ini juga sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kegiatan berbisnis yang sesuai dengan ajaran islam.

Allah berfirman, "Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi pentunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka menyakini perintah kami". (QS. as-Sajdah [32]: 24).

Baca Juga: Prinsip-Prinsip Berdagang yang Baik Sesuai Petunjuk Nabi Muhammad SAW

Profesionalisme seorang pemimpin adalah kemampuan untuk memberi petunjuk kepada bawahan mereka ketika mengerjakan sebuah pekerjaan. Seorang pemimpin yang profesional juga harus mengerti dan meyakini dengan benar semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan tersebut.

Terkadang ada seorang pemimpin dengan sikap yang otoriter dan menginginkan karyawannya mematuhi semua perintah dan suruhannya, tanpa dia contohkan dalam perbuatannya. Akhirnya, yang terjadi hanyalah seorang pengusaha yang hanya bisa berbicara, memerintah dan menunjuk tanpa ada langkah konkrit yang mengiringi ucapan tersebut.

Sehingga yang terjadi adalah kesulitan yang dialami oleh para bawahan dan mengakibatkan salah pengertian yang akan membawa pada kekacauan.

Dari Abu Musa, kakek Said ibn Jabir, ketika Rasullulah menunjuk Muadz ibn Jabal dan saya sendiri sebagai gubernur Yaman, beliau menasihati kami sebagai berikut: "Janganlah kamu menciptakan kesulitan-kesulitan untuk masyarakat dan buatlah hidup ini mudah dan nyaman sesuai dengan mereka." (HR. Bukhari).

Pada poin kejujuran, telah diungkapkan bahwa ucapan harus selaras dengan perbuatan. Hal ini akan sangat membantu dalam mengurangi salah pengertian yang mungkin terjadi antara atasan dan bawahan. Apabila sikap ini telah terbentuk maka bawahan akan mempunyai sikap hormat dan menghargai atasan tidak hanya sebatas formalitas jabatan tetapi pada kemampuan dan kompetensi individu.

Allah berfirman, "Dan Kami telah menjadikan mereka sebagai teladan-teladan yang memberi petunjuk berdasarkan perintah Kami dan Kami telah wahyukan kepada mereka pekerjaan kebajikan. Pelaksanaan shalat, penunaian zakat dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." (QS. al-Anbiya' [21]: 73).

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini