6 Fakta di Balik Kasus Dugaan Investasi Bodong 212 Mart

Giri Hartomo, Jurnalis · Minggu 09 Mei 2021 06:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 08 320 2407698 6-fakta-di-balik-kasus-dugaan-investasi-bodong-212-mart-uHDtd02SZO.jpg Penipuan Investasi 212 Mart di Kalimantan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kasus investasi bodong 212 Mart ramai diperbincangkan. Di mana terjadi pengaduan atas 212 Mart di Kalimantan Timur.

Pengaduan datang dari ratusan warga yang melaporkan investasi bodong 212 Mart ke Polresta Samarinda, Kalimantan Timur. Para masyarakat ikut melakukan investasi beragam, mulai dari Rp500.000 sampai dengan Rp20 juta.

Ada sejumlah fakta menarik dari kasus investasi bodong yang menyeret 212 Mart. Berikut Okezone merangkumnya pada Minggu (9/5/2021).

1. Masalah Terjadi Sejak Oktober 2020

Disebutkan juga bahwa masalah telah muncul sejak Oktober 2020, mulai dari gaji karyawan yang belum dibayarkan hingga operasional 212 Mart ditutup tanpa pengembalian investasi yang dibayarkan.

2. Investasi dari Mulai Rp500.000 sampai Rp20 juta

Pengaduan datang dari ratusan warga yang melaporkan investasi bodong 212 Mart ke Polresta Samarinda, Kalimantan Timur. Para masyarakat ikut melakukan investasi beragam, mulai dari Rp500.000 sampai dengan Rp20 juta.

3. Masyarakat Hati-hati Jika Ingin Investasi

Perencana Keuangan Tejasari Assad mengingatkan masyarakat agar memperhatikan hal-hal berikut bila ingin berinvestasi khususnya patungan. Pertama adalah memperhatikan standar bisnis dan menghilangkan aspek emosional.

Karena bisnis, ya baiknya harus diperlakukan sebagaimana aturan bisnis. Legalitas yang jelas, laporan keuangan, dan operasional bisnisnya perlu diperhatikan lebih seksama," ujar Tejasari saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta

Lebih detail dia mengatakan agar perhatikan seperti apa perjanjian bisnisnya. Apakah berbadan hukum sebagai saham di perusahaan atau sebagai utang.

"Kalau sebagai pemilik saham, artinya yang mereka kejar adalah pertanggung jawaban direktur atau pengelolanya dalam mengembangkan bisnisnya," katanya.

4. Dugaan Investasi Bodong 212 Mart, Ternyata Bukan Koperasi

Deputi Bidang Perkoperasian Kemenkop UKM, Ahmad Zabadi mengaku telah merespons berita investasi bodong 212 Mart di Samarinda. Dirinya mengatakan telah melakukan koordinasi dengan Dinas Koperasi Kota Samarinda dan Koperasi Syariah 212 Pusat.

Karena itu setelah mendapatkan penjelasan didapat fakta bahwa kasus 212 Mart yang terjadi di Samarinda diinisiasi oleh komunitas 212 dalam bentuk Perseroan Terbatas, yaitu PT Kelontong Mulia Bersama.

"Sehingga ini bukan berbentuk koperasi," ujar Ahmad saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta (5/5/2021).

5. Komunitas 212 Mart Kota Samarinda Bukan Bagian dari Koperasi

Direktur Koperasi 212 yaitu Mela, juga didapat fakta bahwa komunitas 212 Mart di Kota Samarinda bukanlah merupakan bagian dari Koperasi 212.

"Itu berbeda dengan Koperasi 212 yang kita kenal," katanya.

6. Satgas Waspada Investasi Buka Suara

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam Lumban Tobing turut berkomentar soal kasus investasi bodong 212 Mart di Kalimantan Timur yang berkedok koperasi.

Menurutnya pada dasarnya koperasi dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Oleh karena itu, Koperasi harus dikelola oleh orang yang profesional.

"Koperasi pada dasarnya diperkenankan untuk mencari pemodal untuk melakukan modal penyertaan untuk memperkuat permodalan koperasi atau membiayai proyek tertentu," ujar Tongam saat dihubungi MNC Portal Indonesia

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini