Pengrajin Sanggul Brebes, Langganan Pejabat hingga Masuk Pasar Ekspor

Doddy Handoko , Jurnalis · Kamis 20 Mei 2021 22:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 20 455 2413220 pengrajin-sanggul-brebes-langganan-pejabat-hingga-masuk-pasar-ekspor-9sdIGUBBP3.jpg Ekspor (Foto: Pelindo I)

JAKARTA  - Di daerah Brebes, Jawa Tengah terdapat sentra pengrajin sanggul. Satu di antaranya adalah Junaenah. Usaha sanggul pasangannya merupakan warisan dari orang tuannya.

Mulai tahun 1970, tangan Junaenah sudah mulai terampil membuat sanggul pasangan. Awalnya hanya bisa memuat sanggul pasangan dengan model jawa saja.

Tapi setelah sekian lama terus menekuni bisnis usaha sanggul pasangan ini, dari pengalaman sekian tahun, sekarang ini sudah banyak model sanggul moderen yang telah dibuat ibu Junaenah.

Proses awal pembuatan sanggul adalah merapikan potongan rambut, setelah itu baru diproses.

Untuk mendapatkan bahan rambut tadi, kebanyakan dari Jakarta di daerah Cilengsi. Dia membeli biasanya dengan bentuk rol-rolan. Ada juga yang masih berupa potongan rambut panjang.

Baca Juga: Kisah Effendi, Diajak Pengusaha Tegal Kini Ekspor Sarung Tenun ke Arab 

Baru setelah itu oleh diproses dengan berbagai bentuk sanggul dengan cara ditata sesui model dengan cara dijahit. Ternyata banyak sekali jenis sanggul yang memiliki masing-masing nama yang diproduksi oleh ibu Junainah.

Mulai sanggul dewi tanggung, dewi mini, dan masih banyak model sanggul olah kreatif dari tangan ibu Junaenah.

Untuk masalah harganya, tergantung model juga kualitas dari rambutnya.

“Untuk sanggul yang desainya sederhana dan ukurannya kecil biasanya dijual dengan harga Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Untuk bentuk sanggul yang membutuhkan bahan rambut banyak dan juga tampilannya elegant, harganya bisa mencapai Rp30 ribu sampai Rp50 ribu.” ujarnya di kota Pemalang, Jateng.

Pesanan sanggul yang model untuk pernikahan kebanyakan datang dari para perias manten. Untuk digunakan sebagai pelangkap asisoris mahkota buat memperlai perempuan.

“Umumnya untuk bentuk sanggulnya memakai model jawa, ukurannya lebih besar dan bervariatif dibandingkan dengan bentuk sanggul yang dipakai para danyang-danyangnya, ukuran sanggulnya umumnya lebih kecil,”jelasnya.

Bahan dasar sanggul pasangan ini, dibeli dengan dengan sistem per-kuintal, untuk harga di kisaran Rp 1,5, juta. Setelah diproses menajadi bahan sanggul, biasanya dari 1 kuintal rambut tadi bisa dijadikan sanggul pasangan sampai berjumlah 1000 sanggul.

Dalam 1 bulan ibu Junaenah bisa mengirim ke Jakarta 2 pengiriman dengan omzet sekitar Rp 4 sampai 5 juta. Kebanyakan sanggul produksi ibu Junaenah banyak dipasarkan di Mangga Dua-Jakarta.

Untuk bahan baku lainya yang dibutuhkan dalammembuat sanggul pasangan itu, antara lain harnet (buat sarung sanggul), fungsinya untuk mempertahankan kerapian rambut yang sudah dibentuk sanggul tadi agar tidak mudah rusak.

Kemudian penjepit rambut yang sudah didesain sedemkian rupa untuk membuat tampilan sanggul tadi bisa kelihatan menarik.

Untuk bahan jepit rambut tadi, biasanya ibu Junaenah mendatangkan dari Jogja, dengan harga per-paknya Rp 17 ribu.

Untuk tenaga, biasanya ongkos pekerja dihitung perhari Rp 35 ribu, kalau mau borongan tergantung kemampaun dari pekerjannya bisa menghasilkan berapa banyak sanggul.

Untuk masalah pesanan sanggul pasangan ini, untuk perbulannya dari satu penjual di Mangga Dua. Terkadang ada yang memesan lebih dari 1000 sanggul. Karena oleh para pedang di Mangga Dua ada sebagian sanggul produksi ibu Junaenah yang dikirim ke luar jawa.

Awal mula memproduksi sanggul buatan ini, ibu Junaenah hanya mempunyai modal sekitar lebih Rp 3 juta-an. Untuk masalah pesanan sanggul, biasanya ibu Junaenah meminta uang muka dulu. Karena untuk menjaga kepercayaan antara dirinya dan pedangang yang ada di Mangga Dua.

Kendala yang sering dihadapi oleh ibu Junaenah cuma masalah tenaga.

“Pas ada pesanan banyak, tenyata ada beberapa karyawanya yang tidak masuk kerja. Jadi biasanya dalam hitungan beberapa hari bisa menyelesaikan beberapa ratus sanggul, jadi terkendala atau lambat produksi karena karyawanya cuti kerja,”katanya.

Untuk produksi sanggulnya, sengaja tidak dikasih merk. Pasalnya karena dirinya hanyalah yang memproduksi saja. Sedangnkan nanti pihak pedagang di Mangga Dua yang biasanya yang akan memberikan merek sendiri sesuai usaha dagang mereka dilokasi. Bakan kabarnya, produksi sanggul ibu Jaenab ini sudah bisa menyentuh pasar ekspor.

Bahkan ada juga dari kalangan karyawati Pemda Brebes yang memesan sanggul ditempat ibu Jaenab, bahkan ada kalanya istri pejabat sekarang bila mau menghadiri acara-acara tertentu bila membutuhkan rambutnya disanggul. Maka bebarapa hari sebelumnya sudah memesan di tempat ibu Junaenah.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini