Mengintip Suburnya Lahan Pertanian di Samping Proyek Jakarta International Stadium, Petani Raup Rp3 Juta

Yohannes Tobing, Jurnalis · Sabtu 29 Mei 2021 17:47 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 29 455 2417294 mengintip-suburnya-lahan-pertanian-di-samping-proyek-jakarta-international-stadium-petani-raup-rp3-juta-3YpNyMffi6.png Lahan Pertanian (Foto: Yohannes)

JAKARTA - Ada pemandangan yang berbeda di tengah kesibukan dan padatnya kota Jakarta. Sejumlah lahan tidur atau lahan kosong diubah oleh sekelompok warga atau petani dari Papanggo menjadi lahan produktif.

Para kelompok petani ini menggubah lahan kosong yang berada di samping proyek pembangunan Jakarta International Stadium (JIS) menjadi lahan pertanian yang di tanam sayur-sayuran.

Di lahan yang di perkirakan seluas belasan hektare tersebut dimanfaatkan oleh 13 petani yang rata rata berasal dari Indramayu untuk menanam sayuran seperti bayam, kangkung, sawi, kemangi dan lain lain.

Baca Juga: Mengintip Cara Kerja Aturan Alih Fungsi Sawah 

Salah satu petani bernama Tarsiman (50) mengatakan dengan adanya lahan kosong ini, dirinya bersama dengan petani lain mampu menghasilkan ratusan ikat bahkan ribuan ikat sayur setiap bulan.

"Setiap bulan biasanya memang kita panen ratusan ikat sampe ada ribuan untuk dijual," kata Tarsiman saat ditemui di lokasi Kelurahan Papanggo, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (29/5/2021).

Menurut Tarsiman, selama dirinya mengelola lahan tersebut setiap bulannya mampu menghasilkan berbagai jenis sayur dan di pasarkan melalui tengkulak.

"Banyak yang sering di panen. Kaya sayur kangkung itu masa tanam 17 hari. Satu setengah bulan bisa dua kali panen. Dan dijual ke tengkulak seharga Rp5.000 per ikat," katanya.

 Lahan

Dalam sebulan, Tarsiman bercerita jika tidak ada gagal panen, maka dirinya bisa meraup keuntungan hingga jutaan. "Penghasilan sebulan sih bisa sampai Rp3.000.000 itupun kalau laku banyak," katanya.

Sementara itu petani lainnya, Kasam (40) mengatakan, sejak tahun 2016 dirinya membawa keluarganya ke Jakarta setelah mendapat tawaran bertani yang menggiurkan dari saudaranya.

"Kalau di kampung bertani dalam setahun paling banyak 3 kali panen. Kalau di sini setiap bulan panen. Walaupun hasilnya enggak banyak tapi cukup untuk kebutuhan," ujarnya.

Kasam menuturkan, dirinya dan petani lainnya memilih menanam sayuran, karena dari segi perawatan tidak terlalu rumit. Selain itu, menanam sayuran dapat dipanen dalam waktu singkat.

Lurah Papanggo Maryono mengungkapan, jika kelompok tani tersebut bukan merupakan binaan Sudin KPKP Jakarta Utara dan menyewa lahan secara pribadi.

"Itu lahan di luar JIS, berbatasan dengan saluran PHB (Penghubung) yang mengalir ke waduk cincin. Lahan itu punya PT Buana Permata Hijau," ucap Maryono.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini