Stimulus Fiskal Penting tapi Cek Kesehatan APBN Ya

Hafid Fuad, Jurnalis · Minggu 06 Juni 2021 15:12 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 06 320 2420960 dpr-soroti-insentif-kartu-prakerja-ada-apa-cDyvT8Gjyl.jpg Prakerja (Foto: Okezone)

JAKARTA - Data Kartu Prakerja, dari jumlah bantuan pelatihan tahun anggaran 2020 sebesar Rp19,56 triliun, jumlah penyaluran dana program Kartu Prakerja tahun 2020 hingga Maret 2021 hanya mencapai Rp 15,27 triliun.

Sehingga terdapat dana sebesar Rp4,29 triliun yang dikembalikan ke Rekening Kas Umum Negara (RKUN). Angka ini terdiri dari setoran sisa dana tahun 2020 sebesar Rp 4,007 triliun dan Rp 278,2 miliar hingga 30 April 2021.

Anggota Komisi XI DPR RI Puteri Komarudin mengimbau pemerintah dan otoritas terkait agar menjaga pengalokasian stimulus tetap sejalan dengan arah kebijakan konsolidasi fiskal. Selain itu juga yang sangat dibutuhkan adalah strategi yang sudah disepakati di hadapan DPR dapat diimplementasikan dengan baik.

Baca Juga: Ayo Buruan Daftar, Kartu Prakerja Gelombang 17 Ditutup Besok Siang!

"Pemerintah perlu fokus untuk meningkatkan produktivitas, mengurangi kesenjangan infrastruktur, mempercepat adopsi teknologi, serta meningkatkan kompetensi tenaga kerja,” ujar Puteri saat dihubungi Okezone di Jakarta (6/6/2021).

Menurutnya pemberian stimulus dengan program PEN memang sangat penting untuk menjaga nafas perekonomian, tetapi tidak bisa selamanya. Karena stimulus fiskal sifatnya timely, temporary, dan targeted.

Baca Juga: Program Kartu Prakerja Dilanjutkan, Gelombang 17 Dibuka untuk 44.000 Peserta

"Inilah tantangan Pemerintah. Pemerintah juga harus menjaga kesehatan APBN dalam jangka menengah-panjang," tambahnya.

Dia menilai rancangan RAPBN tahun 2022 nanti sangat penting sebagai kunci keberlanjutan pemulihan.Target pertumbuhan ekonomi tahun 2022 sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan pemulihan jangka menengah maupun jangka panjang, sekaligus untuk mendorong upaya keluar dari middle income trap.

"Untuk itu harus diikuti dengan strategi-strategi yang dapat terimplementasi dengan baik di lapangan," ujarnya.

Sebagai informasi, pemerintah mengusulkan kisaran indikator ekonomi makro yang digunakan sebagai dasar penyusunan RAPBN tahun 2022, antara lain pada 5,2–5,8 persen untuk pertumbuhan ekonomi, inflasi pada 2,0 - 4,0 persen, tingkat suku bunga SBN 10 tahun pada 6,32–7,27 persen, nilai tukar rupiah pada Rp13.900–Rp15.000/USD, harga minyak mentah pada USD 55–65 /barel, lifting minyak bumi pada 686–726 ribu barel per hari, dan lifting gas bumi pada 1.031–1.103 ribu barel setara minyak per hari.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini