Share

Bukti Nih, Geliat Pelaku Industri Ekonomi Kreatif di Pasar Digital

Senin 07 Juni 2021 15:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 07 320 2421376 bukti-nih-geliat-pelaku-industri-ekonomi-kreatif-di-pasar-digital-9mfc5WcLwE.jpg UMKM (Foto: Okezone)

JAKARTA - Para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) harus memutar otak untuk bisa bersaing di tengah situasi sulit pandemi Covid-19 saat ini, terutama bagi sektor ekonomi kreatif yang juga tidak kalah terdampak.

Salah satunya adalah merambah ke sektor pemasaran digital. Para pelaku UMKM harus jeli memanfaatkan peluang pandemi di mana konsumen saat ini lebih banyak memanfaatkan teknologi digital dalam berbelanja.

Baca Juga: Sandiaga Uno Ingin Karya Parekraf Dilindungi Hukum

Dikutip dari Koran Sindo, Senin (7/6/2021), hal ini juga dirasakan oleh salah satu pelaku usaha ekonomi kreatif, Sandra Maria. Sandra merupakan penjual aneka perlengkapan olahraga yang berlokasi di daerah Cileungsi, Bogor, Jawa Barat.

Dia mengakui saat pandemi melanda di awal 2020, jumlah pembeli di tokonya semakin menurun karena kebijakan pembatasan sosial. Hal itu membuat dirinya harus memutar otak dengan mulai memasarkan produknya lewat aplikasi digital, seperti Whatsapp , Facebook, Instagram, dan lainnya.

Baca Juga: Sandiaga Sebut Ekonomi Kreatif Jadi Kekuatan Masa Depan Indonesia

"(Awal-awal pandemi) terasa banget susahnya. Kalau dulu (sebelum pandemi) kan orang bisa bebas keluar sana sini, datang ke toko. Sekarang sejak pandemi jadi lumayan sepi. Makanya saya manfaatin saja tuh (penjualan lewat onIine)," ujarnya.

Perlahan namun pasti, siasat yang dilakukan Sandra lumayan berhasil. Jika sebelumnya di awal pandemi hanya mampu menjual maksimal lima produk, kini dia bisa melepas perlengkapan olahraga hingga belasan produk setiap harinya.

Nasib yang hampir sama juga dialami Posma P, pemilik Queency Bal, usaha aneka pakaian bekas (thrift) di Proyek Senen, Jakarta. Sebelum pandemi, dia mengaku setiap pekannya mampu menjual hingga belasan paket karung berisi pakaian yang dimpor dari luar negeri itu. Satu paket umumnya berisi sekitar 180-200 pakaian bekas.

"Dulunya sepi banget yang beli, pas awal pandemi sampai akhir tahun kemarin lah. Kita akhirnya terpaksa jualan lewat online, masarinnya ke teman-teman komunitas thrift. Kalau enggak gini, barang susah lakunya," cerita Posma.

Deputi Bidang Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Kemenkop UKM Hanung Harimba Rachman mengatakan, pihaknya terus berupaya agar industri kreatif bisa tetap bertumbuh dengan menjaga keseimbangan antara sisi permintaan (demand) dan penawaran (Supply).

"Makanya ada beberapa kebijakan afirmatif yang didorong pemerintah, misalnya belanja pemerintah. Sekitar 40% pengadaan barang jasa itu dari UMKM. Itu kebijakan dari sisi demandnya. Selain itu, ada juga program Bangga Buatan Indonesia, pengadaan barang dan jasa dari BUMN," tutur Hanung.

Selain itu, Kemenkop UKM juga menjalin kemitraan dengan kementerian/lembaga terkait, membangun kolaborasi dengan perusahaan atau industri besar, serta menjembatani para pelaku UMKM dengan perusahaan. Hanung juga mendorong para pelaku UMKM untuk adaptif dan masuk ke ranah digital.

"Masuk ke platform digital itu supaya demand dan supply mudah terpenuhi. Bisa masuk ke e-commerce, medsos, Itu langkah-langkah yang kita dorong agar meng-create supaya demand-nya naik, dengan begitu kreditnya juga akan lebih banyak.

Hanung menambahkan, langkah lain yang dilakukan pemerintah untuk mendorong industri ekonomi kreatif yaitu dengan menambah kredit dan KUR bagi pelaku usaha.

"Bahkan, pemerintah menargetkan kredit untuk UMKM atau industri kreatif itu naik dari selama ini hanya 19% didorong supaya bisa 30% di 2024. Kemudian, pagu KUR dari Rp500juta mungkin bisa sampai Rp20 miliar," ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini