Tips Raup Untung Besar dari Bisnis Martabak Mini dengan Modal Kecil

Fariza Rizky Ananda, Jurnalis · Minggu 13 Juni 2021 21:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 11 455 2423648 tips-raup-untung-besar-dari-bisnis-martabak-mini-dengan-modal-kecil-X7MCxScgOr.jpg Bisnis Martabak (Foto: OpenSnap)

JAKARTA - Martabak merupakan salah satu cemilan favorit masyarakat Indonesia yang terkenal akan kelezatannya. Jenis martabak yang biasanya diketahui di pasaran ada dua macam, yaitu martabak manis dan martabak telur.

Martabak manis atau telur cocok dihidangkan sebagai teman minum teh atau oleh-oleh bagi keluarga. Saat ini pedagang martabak banyak yang menggunakan gerobak, bahkan sudah banyak toko kue atau restoran yang menjual martabak sebagai menu utamanya.

Martabak kebanyakan dijual dalam porsi besar. Pedagang martabak biasanya memasak langsung di tempat sehingga penyajian dalam kondisi hangat.

Baca Juga: Contoh Usaha Kuliner Pinggir Jalan, dari Martabak hingga Kue Cubit 

Karena persaingan yang semakin ketat, pengusaha harus memiliki keunikan dan ciri tersendiri agar martabak yang dijualnya cepat laku dan mudah diingat orang.

Salah satu caranya yaitu dengan menjual martabak mini. Selain itu pedagang harus memilih tempat penjualan yang cocok dan distribusi yang tepat sasaran.

Berikut investasi alat yang dibutuhkan untuk memulai bisnis martabak manis dan telur skala home industry, dikutip dari buku 19 Inspirasi Bisnis Jajanan Populer dan Lauk Favorit karya Yuyun Anwar, Minggu (11/6/2021).

Peralatan:

Cetakan martabak manis = Rp400.000

Wajan martabak telur = Rp400.000

Kompor panggang = Rp800.000

Kompor gas = Rp350.000

Tabung gas elpiji = Rp350.000

Peralatan lain = Rp600.000

Gerobak = Rp1.750.000

Total peralatan = Rp4.650.000

Berikut gambar analisis usaha (perhitungan harga jual dan keuntungan) martabak telur mini. Estimasi penjualan per hari 90 buah.

Biaya Produksi Selama Satu Bulan

Kulit lumpia (90 buah x Rp100/buah x 26 hari) = Rp234.000

Bawang putih (0,02 kg x Rp14.000/kg x 26 hari) = Rp7.280

Bawang bombai (0,2 kg x Rp 12.000/kg x 26 hari) = Rp62.400

Daging cincang (1 kg x Rp50.000/kg x 26 hari)= Rp1.300.000

Kari bubuk (0,03 kg x Rp35.000/kg x 26 hari) = Rp27.300

Telur ayam (0,4 kg x Rp18.000/kg x 26 hari) = Rp187.200

Bawang daun (0,2 kg x Rp5.000/kg x 26 hari) = Rp26.000

Garam halus (0,025 kg x Rp1.500/kg x 26 hari) = Rp975

Penyedap rasa (0,004 kg x Rp15.000/kg x 26 hari) = Rp1.560

Minyak goreng (2 liter x Rp12.000/iter x 26 hari) = Rp624.000

Cabai rawit (0,1 kg x Rp19.000/kg x 26 hari) = Rp49.400

Wadah plastik atau daun pisang (90 buah x Rp50/buah x 26 hari) = Rp 234.000

Total biaya produksi per bulan = Rp2.752.555

Harga pokok (per buah) = Total biaya produksi sebulan : Jumlah produksi sebulan

=Rp2.752.555:(90x26)

Rp2.752.555 :2.340

= Rp1.176

Harga jual = Harga pokok + (%keuntungan x harga pokok)

= Rp1.176 + (70%xRp1.176)

= Rp1.176 + Rp824

=Rp2.000

Pendapatan kotor per bulan = Jumlah produksi per bulan x Harga jual

= 2.340 buah x Rp2.000/buah

=Rp4,680.000

Keuntungan kotor per bulan = Total pendapatan kotor-Total biaya produksi

=Rp4.680.000-Rp2.752.555

=Rp1.927.445

Catatan: keuntungan kotor belum termasuk biaya penyusutan investasi peralatan, biaya promosi, biaya tenaga kerja, pemasaran, dan transportasi. Omzet dapat dikembangkan secara bertahap sesuai dengan respon pasar.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini