Saham BABP Menguat, IHSG Sesi I Menghijau

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Senin 14 Juni 2021 11:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 14 278 2424752 ihsg-sesi-i-menguat-tipis-ke-6-101-yz2TGb7fij.jpg IHSG (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan pada perdagangan sesi I. Siang ini, IHSG menguat tipis 5,64 poin atau 0,1% ke 6.101,14.

Pada penutupan perdagangan sesi I, Senin (14/6/2021), terdapat 237 saham menguat, 300 saham melemah, dan 191 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp13 triliun dari 5,6 miliar lembar saham yang diperdagangkan.

Indeks LQ45 naik 3,35 poin atau 0,4% ke 898,29, indeks JII turun 2,67 poin atau 0,5% ke 563,80, indeks IDX30 turun 2,37 poin atau 0,5% ke 480,28, dan indeks MNC36 turun 1,56 poin atau 0,5% ke 301,84.

Penguatan IHSG ini ditopang beberapa saham perbankan, salah satunya PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP). Pagi tadi, saham MNC Bank ini masuk top gainers dengan naik Rp30 atau 7,77% ke Rp416.

Sementara, pada sesi I, saham MNC Bank paling paling banyak ditransaksikan, dengan nilai Rp 253,6 miliar. Sesi I, saham MNC Bank melanjutkan penguat hingga penutupan sesi pertama. Saham MNC Bank tercatat 3,1% menjadi Rp 398 per lembar saham

Baca Juga: IHSG Rebound, Dibuka Menguat ke Level 6.117 

President Director PT Astronacci International Gema Goeyardi mengatakan, naiknya inflasi di Amerika Serikat (AS) tidak terlalu berdampak bagi Indonesia (IHSG). Menurut dia, kondisi ini memang seharusnya sudah terjadi.

“Jadi kalau misalkan kita lihat inflasi di Amerika naik, seharusnya memang sudah harus naik. Karena Consumer Price Index (CPI) indeksnya mulai recover dari zaman sebelumnya ya. Yang kita tahu juga di tanggal 16 Juni nanti di Los Angeles juga sudah mulai ada kebijakan baru tentang masker,” katanya dalam acara Market Opening IDX Channel.

Gema menjelaskan, dapat terlihat bahwa kehidupan di Amerika memang benar-benar sudah mulai kembali normal. Serta, diperkirakan naiknya inflasi ini disebabkan oleh demand bukan karena cost. Oleh karena itu, ada kemungkinan pemerintah AS akan melakukan tapering off atau menaikkan suku bunga.

“Saya pikir The Fed akan menunggu satu periode lagi sebelum menaikkan suku bunga. Ya itu probability-nya sekitar 60% untuk dia tidak melakukan kebijakan ekonomi yang agresif sementara waktu dan juga mungkin sambil melihat recovery-nya,” jelas dia.

Sementara itu, Gema menilai, global sudah mulai move on dari pandemi Covid-19. Salah satunya dapat terlihat perbaikan ekonomi di Amerika yang pulih lebih cepat daripada prediksi.

“Ini akan menjadi salah satu major reason bahwa pasar modal di dunia itu harusnya sudah akan cukup stabil dan mereka akan mencari sentimen lain other Covid-19. Kalau kita pelajari juga dari awal tahun sampai sekarang indeks di Amerika sudah tidak terpengaruh Covid-19 lagi dan malah terus naik,” ucap dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini