IHSG Lesu, Investor Wait and See Tunggu The Fed

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Kamis 17 Juni 2021 17:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 17 278 2426823 ihsg-lesu-investor-wait-and-see-tunggu-the-fed-NgQcgIpo9K.jpg IHSG Melemah. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,17% pada level 6.068,44. IHSG mengalami koreksi di tengah gempuran beberapa sentimen seperti rencana suku bunga The Fed dan kenaikan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia.

Senior Research Analyst Infovesta, Praska Putrantyo mengatakan, IHSG hari ini relatif mengikut pergerakan bursa regional Asia yang memerah.

Baca Juga: IHSG Sesi I Masih Lesu pada Level 6.065

“Kita masih menunggu keputusan dari The Fed tadi malam, di mana rencana The Fed yang tadinya naik di 2024, akan dimajukan lebih cepat di 2023 dan diperkiran terjadi kenaikan dua kali. Hal itu cukup wajar mengingat kondisi inflasi di Amerika Serikat relatif cukup terakselerasi pada per mei menembus secara year on year 45%,” ujar Praska pada 2nd Session Closing di IDX Channel, Kamis (17/6/2021).

IHSG hari ini juga terseret saham-saham energi yang terkoreksi 1,46%. Di samping itu, saham-saham kapitalisasi besar seperti Unilever, di mana konsumen menyeretkan penerimaan sehingga memberatkan indeks melemah di sesi ke II perdagangan hari ini.

Baca Juga: Turun 39 Poin, IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.038

"Pelemahan IHSG yang dikatakan tidak terlalu dalam, menurut Praska, level ini sudah bisa dikatakan terantisipasi. Sebab, keputusan nanti berjalan di tahun 2023, yang artinya masih memiliki waktu dua tahun lagi," ujarnya.

Kemudian, kondisi ini lebih dikendarai oleh naiknya laju inflasi dari Amerika Serikat. Namun koreksi tersebut sudah mengantisipasi dalam hal inflasi AS yang terus naik.

Dengan begitu, dampak kepada market di pasar saham, sudah tidak lagi jadi sesuatu yang luar biasa menekan pasar.

“Jadi investor lebih menunggu wait and see sembari menunggu lebih kepada bagaimana di samping rencana kenaikan tersebut tapi bagaimana realisasi dari ekonomi AS maupun global terutama domestic ditengah mulai meningkatnya kasus Covid-19,” terangnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini