Pasar SBN Dinilai 'Kebal' Covid-19, Ini Penjelasannya

Tim Okezone, Jurnalis · Sabtu 19 Juni 2021 08:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 18 278 2427484 pasar-sbn-dinilai-kebal-covid-19-ini-penjelasannya-wS2BXBDxTy.jpeg Investasi di Surat Utang. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

Budi menambahkan bahwa The Fed juga menyatakan hal yang sama bahwa inflasi hanya bersifat temporer dan akan segera membaik. Dalam proyeksi terbaru, Fed menunjukan inflasi mulai turun pada tahun 2022. Akibatnya, ekspektasi inflasi pasar jangka panjang berangsur turun. Adapun rilis opini anggota Fed mensinyalkan kenaikan suku bunga baru akan terjadi pada tahun 2023.

"Sedangkan taper kami perkirakan baru akan dimulai pada awal 2022 mendatang. Menurut pandangan kami, saat ini pelaku pasar global percaya dengan sinyal yang diberikan oleh The Fed bahwa kebijakan moneter masih akan tetap akomodatif, setidaknya hingga akhir tahun ini," katanya.

Dengan kondisi seperti ini, diperkirakan pelaku pasar global akan tetap menyalurkan likuiditas yang berlebih di pasar emerging market yang masih menawarkan yield yang tinggi hingga akhir tahun ini. Yield SBN Indonesia tenor 10 tahun sebesar 6,57 persen dipandang masih menarik dibandingkan yield obligasi tenor 10 tahun AS yang diperkirakan dalam kisaran antara 1,37-1,88%.

Ini terlihat dari dana asing yang masuk ke SBN per tanggal 15 juni sebesar Rp6,6 tiliun.

“Kami memperkirakan tren positif net buy asing di pasar SBN akan terus berlanjut selama Semester II tahun ini,” tutup Budi.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini