Ekonom: Wacana Lockdown Jangan Langsung Ditentang tapi Lihat Situasi

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Minggu 20 Juni 2021 09:01 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 320 2427957 ekonom-wacana-lockdown-jangan-langsung-ditentang-tapi-lihat-situasi-CrY2Ob6zOT.jpg Kebijakan PSBB atau Lockdown (Foto: Okezone)

JAKARTA – Kasus Covid-19 di Indonesia kembali melonjak, bahkan mencatat rekor tertingginya pada Jumat 18 Juni 2021 yang hampir menembus 13.000 kasus.

Lonjakan kasus Covid-19 ini kembali memunculkan opsi PSBB ketat maupun lockdown. Saat ini, pemerintah Indonesia menerapkan PPKM skala mikro dalam pengendalian Covid-19.

Menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal, aturan lockdown jangan langsung ditentang karena miliki tujuan. Menurutnya semua harus dilihat berdasarkan kondisi yang ada di depan mata.

“Wacana lockdown ini jangan langsung ditentang karena harus melihat situasi yang ada. Jika memang mengharuskan lockdown supaya menekan angka Covid-19, bagi saya tidak masalah,” ujarnya kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (20/6/2021).

Baca Juga: Sultan HB X: Kita Sudah Bicara dan Menjaga, Kalau Gagal Ya Lockdown 

Dia menjelaskan, Indonesia harus berkaca dengan negara-negara lain yang berhasil dari kebijakan lockdown ini. Tapi tetap mempertimbangkan aspek yang lainnya. Dia menuturkan, jika pemerintah belum menemukan cara lain untuk menekan penyebaran Covid-19, lockdown bisa diterapkan untuk sementara.

“Namun, di sisi lain, jika pemerintah bisa menemukan cara lain untuk menekan angka penyebaran Covid-19, kebijakan lockdown ya tidak perlu diterapkan,” tambahnya.

Dia menambahkan, penting bagi pemerintah gerak cepat dalam pemulihan kesehatan terlebih dahulu supaya masyarakat dapat percaya diri melakukan mobilitas. Sebab, jika kasus Covid-19 sudah terlalu banyak, walaupun tidak adanya batasan mobilitas, orang tetap akan khawatir untuk berada di kerumunan, khususnya di pusat perbelanjaan.

“Karena jika dari sisi kesehatan (vaksin) belum semua pihak terpenuhi, banyak orang akan tetap merasa takut untuk bertemu dengan orang termasuk berbelanja. Lagi-lagi pusat perbelanjaan sepi,” katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini