Harga Jagung Rp40.000 per Kg, Kenapa Korea Utara Alami Krisis Pangan Hebat?

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Minggu 20 Juni 2021 14:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 20 320 2428037 harga-jagung-rp40-000-per-kg-kenapa-korea-utara-alami-krisis-pangan-hebat-WHikLQ9ief.jpg Korut Alami Krisis Pangan (Foto: Kim Jong un pada 2019/BBC Indonesia)

JAKARTA - Korea Utara pernah mengalami masa-masa penderitaan karena kelaparan di masa lalu, dan saat ini Kim Jong-un mengeluarkan peringatan krisis pangan yang hebat di depan mata.

Sejauh ini sangat sulit untuk mencari informasi mengenai persoalan ini di negara yang memiliki kerahasiaan yang tinggi.

Jadi apa yang kita ketahui tentang situasi pangan di sana, dan kenapa tahun ini Korea Utara mengalami kekurangan bahan makanan pokok tersebut?

Apa yang terjadi dengan harga makanan?

Satu indikator yang paling menjelaskan tentang kelangkaan pangan adalah kenaikan harga bahan makanan pokok.

Harga satu kilogram jagung meningkat tajam pada Februari lalu mencapai 3.137 won atau sekitar Rp40.000, menurut data dari situs NK Daily, yang mengumpulkan informasi harga kebutuhan bahan pokok dari Korea Utara.

Harga jagung terus melonjak tajam pada pertengahan Juni, menurut laporan situs Asia Press. Situs ini mendapat informasi melalui seorang warga dengan telepon selular yang diselundupkan ke Korea Utara.

Jagung adalah makanan pokok yang kurang disukai dibandingkan beras, tapi sering dimakan karena harganya lebih murah.

Sementara itu, harga beras satu kilogram di ibu kota negara, Pyongyang, saat ini mencapai yang tertinggi sejak Desember 2020 lalu - tapi harganya cenderung fluktuatif.

Pantauan harga pasar memberikan data terbaik mengenai aktivitas ekonomi, karena sebagian besar warga Korea Utara memperoleh makanan dan bahan pokok lainnya dari perdagangan pasar, kata pengamat Korea Utara, Benjamin Silberstein.

"Negara hanya memberikan porsi yang relatif kecil kepada PNS birokrasi pemerintahan."

Ransum yang disediakan negara hampir tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga, dan kurang dapat diandalkan jauh dari kota-kota besar.

Artinya, banyak orang tergantung dengan pasar kaki lima untuk memenuhi kebutuhan dapur mereka.

Cuaca ekstrem menghancurkan pertanian

Saat Kim Jong-un mengeluarkan peringatan mengenai kelangkaan makanan, ia menyinggung dampak dari topan dan banjir pada panen tahun lalu.

April hingga September 2020 adalah periode paling basah dalam catatan sejarah sejak 1981, menurut laporan GEOGLAM, organisasi pemantau masalah pertanian yang berbasis di Paris.

Semenanjung Korea dihantam serangkaian topan, tiga di antaranya berlangsung selama dua pekan pada Agustus dan September. Periode ini bertepatan dengan masa dimulainya panen jagung dan padi.

Bahan makanan pokok menjadi langka pada bulan Juni, karena persediaan dari panen musim gugur sebelumnya mulai menipis, terutama jika panen memburuk.

Topan Hagupit terjadi pada awal Agustus, menjadi salah satu badai yang dilaporkan media pemerintah dengan kerusakan yang cukup rinci.

Dikatakan banjir telah menghancurkan 40.000 hektar lahan pertanian dan 16.680 rumah warga.

Pada peristiwa badai berikutnya, media pemerintah secara luas menghindari untuk memberikan lebih banyak informasi.

Dampak dari peristiwa alam ini telah diperburuk oleh deforestasi selama beberapa dekade terakhir.

Krisis ekonomi pada 1990an menyebabkan penebangan pohon secara luas untuk kebutuhan bahan bakar.

Meskipun terdapat kampanye untuk penanaman kembali, akan tetapi deforestasi berlanjut, mengundang bencana banjir yang semakin buruk.

Berdasarkan laporan yang dipublikasi Maret lalu oleh Global Forest Watch, sebanyak 27.500 hektar tutupan pohon telah hilang pada 2019. Jika diakumulasikan, terdapat 233.000 hektar tutupan pohon yang hilang sejak 2001.

Menurut blog 38 North, yang memantau Korea Utara, meskipun negara itu meningkatkan manajemen bencana, tapi masih tidak memadai.

Kekurangan pupuk yang serius

Salah satu persoalan yang kurang diketahui mengenai sektor pertanian di Korea Utara, adalah sulitnya mendapatkan pupuk untuk meningkatkan hasil panen.

Sebuah surat dari Kim Jong-un pada 2014 menuliskan peringatan kepada pimpinan sektor pertanian bahwa mereka harus menemukan sumber alternatif dari pupuk yang mudah didapatkan.

"Gunakan semua sumber kotoran seperti kotoran hewan domestik, kotoran manusia, kompos, dan parit tanah [ekstrasi dari bawah permukaan tanah]," tulis Kim Jong-un dalam surat yang dipublikasi oleh kantor berita negara KCNA.

Negara ini tidak mampu mencukupi kebutuhan sendiri dalam produksi pupuk, dan menurut Nikkei Asia pada Februari, salah satu pabrik terbesar yang memproduksi, di antaranya, pupuk, harus tutup karena kekurangan bahan pokok.

Pabrik ini tutup disebabkan penutupan perbatasan dengan mitra dagang terbesar Korea Utara yaitu China pada Januari 2020, karena pandemi Covid-19.

Perdagangan sangat dibatasi oleh sanksi

Sanksi ekonomi internasional membuat perdagangan dengan negara-negara lainnya menjadi sangat terbatas.

Total ekspor China ke Korea Utara berkisar US$2.5 - US$3.5 miliar dalam beberapa tahun terakhir. Tapi tahun lalu, nilai ekspor kurang dari US$500 juta, menurut data bea cukai resmi China.

Tangkapan foto satelit di wilayah perbatasan Korea Utara-China (Sinuiju dan Dandong) menunjukkan berkurangnya arus lalu lintas kendaraan dibandingkan dengan 2019.

Hal ini menjadi bukti yang menunjukkan bahwa perbatasan ini telah ditutup untuk perdagangan, menurut laporan dari according to a report by the Centre for Strategic and International Studies (CSIS).

Penelitian ini mencatat lebih dari 100 kendaraan lalu lalang di area perbatasan bea cukai pada 2019 - tapi hanya ada 15 kendaraan pada Maret 2021.

Namun, lebih banyak gerbong yang terlihat pada bulan Maret dibandingkan dengan foto yang diambil dua tahun lalu di lokasi yang sama. Hal ini membawa peneliti meyakini banyak perdagangan yang mungkin dilanjutkan.

Sejak itu, tak ada indikasi perbatasan ini akan dibuka dalam waktu dekat, menurut pengamat Korea Utara.

Masalah bantuan makanan

Perbatasan yang ditutup juga membuat Korea Utara sulit untuk memperoleh bantuan makanan. Bantuan makanan adalah hal yang dikecualikan dalam sanksi.

Negara donor terbesar itu adalah China, dan ekspor makanan ke Korea Utara telah terjun bebas hingga 80% sejak dimulainya pandemi.

Aliran bantuan ke dalam Korea Utara dari negara donor tidak mencukupi selama dekade terakhir, kata PBB.

Dan kebanyakan bantuan makanan dari organisasi internasional saat ini tak bisa dilakukan di Korea Utara, karena pembatasan Covid-19 membuat penyaluran bantuan lebih sulit dibandingkan masa-masa normal.

Kun Li dari World Food Programme mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya belum dapat melakukan survei makanan rumah tangga sejak sebelum pandemi.

"Meskipun ada tantangan, pada 2020, WFP membawa pasokan yang terbatas, dan menjangkau setidaknya 730,000 orang... dengan bantuan makanan dan nutrisi," katanya.

Korea Utara memiliki kekurangan bahan makanan pokok setara dengan persediaan dua atau tiga bulan, menurut laporan Organisasi Pangan Pertanian PBB.

"Jika kekurangan ini tidak dapat ditutupi melalui impor komerasial dan/atau bantuan pangan dari luar negeri, rumah tangga bisa mengalami masa sulit periode Agustus hingga Oktober 2021."

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini