Menteri ESDM Ungkap Strategi Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Oktiani Endarwati, Jurnalis · Selasa 22 Juni 2021 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 320 2428947 menteri-esdm-ungkap-strategi-turunkan-emisi-gas-rumah-kaca-2UDyi1VE4Z.jpg Menteri ESDM Arifin Tasrif (Foto: Dok Kementerian ESDM)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan tentang strategi jangka panjang mengenai penurunan emisi gas rumah kaca di sektor energi untuk mencapai netralitas karbon di Indonesia. Hal ini dia sampaikan saat menerima kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup Republik Ceko Richard Brabec beserta para delegasi dari pejabat pemerintah dan kalangan bisnis Republik Ceko.

Menurut Arifin, netralitas karbon dapat dicapai melalui pengembangan potensi EBT secara masif, interkoneksi transmisi dan pengembangan sistem smart grid, penurunan penggunaan energi fosil, dan penerapan teknologi energi bersih pada pembangkit listrik berbasis energi fosil yang ada, serta pengembangan kendaraan listrik.

"Indonesia berkomitmen melakukan transisi pembangunan menuju rendah karbon dan ketahanan iklim secara bertahap guna mencapai target pengurangan emisi sebesar 29% pada tahun 2030 atau 41% dengan dukungan internasional," ujarnya dalam siaran pers, Selasa (22/6/2021).

Baca Juga: Produksi Batu Bara Tembus 237 Juta Ton hingga Mei 2021

Saat ini, sambung Arifin, kontribusi EBT sudah mencapai 11,2% yang didominasi dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dan PLT Panas Bumi (PLTP). Pemerintah juga tengah menyusun Grand Strategi Energi Nasional (GSEN) dengan menetapkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sekitar 38 Giga Watt (GW) di tahun 2035. "Solar PV jadi prioritas mengingat biaya investasi yang relatif lebih murah, durasi instalasi yang singkat, serta memiliki potensi sumber yang besar," ungkap Arifin.

Indonesia sendiri diberkati lebih dari 400 GW potensi EBT yang tersebar di seluruh negeri dengan rincian solar sekitar 208 GW, disusul PLTA 75 GW, sumber lainnya berasal dari Angin, Bio Energi, Panas Bumi dan Laut. Untuk itu, Pemerintah Indonesia bersedia bertukar pengalaman dengan Republik Ceko dalam dalam hal percepatan phasing-out batubara dalam penyediaan energi, pembangkit listrik tenaga air, waste-to-energy, biofuel, teknologi CCUS, smart grid, dan lain-lain.

Baca Juga: Harga Batu Bara Acuan Naik USD100,3 per Ton, Tertinggi sejak 2018

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Richard Brabec yang didampingi oleh Dubes Besar Republik Ceko untuk Indonesia, Deputy Minister of Trade and Industry, President of Confederation of Industry Ceko menawarkan kerjasama yang terkait dengan teknologi pertambangan yang berkelanjutan dan dekarbonisasi penyediaan energi. Pihaknya juga menyampaikan pengalaman dan keahlian Ceko dalam survei dan pemetaan geologi.

Richard menyampaikan bahwa Ceko dan Indonesia memiliki kesamaan dalam menghadapi tantangan di bidang penyediaan energi, khususnya terkait dengan net zero emission. Pada tahun 1990-an, penyediaan energi Ceko hampir seluruhnya dipenuhi dari batubara. Namun dengan adanya komitmen global, Ceko akan menurunkan emisi sebesar 38% dari sektor energi pada tahun 2030 agar dapat mencapai net zero emission pada tahun 2050 bersama-sama dengan negara anggota Uni Eropa lainnya.

Tawaran ini sejalan dengan strategi yang telah disiapkan oleh Menteri ESDM guna meningkatkan pemanfaatan EBT dan mencapai netral karbon. Beberapa strategi yang telah disiapkan, seperti pengembangan EBT secara masif, menghentikan pengoperasian pembangkit listrik berbasis batubara di tahun 2058, pembangkit listrik gabungan pada tahun 2054, konversi pembangkit listrik tenaga diesel menjadi pembangkit listrik EBT, implementasi Carbon Capture and Storage atau Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCS/CCUS), meningkatkan penggunaan kendaraan listrik pada tahun 2030 (2 juta mobil dan 13 juta sepeda motor) dan interkoneksi transmisi dan pengembangan kelistrikan smart grid.

"Sungguh sebuah kehormatan bagi saya adanya pertemuan bilateral tentang energi dan sumber daya mineral. Kita siap berkolaborasi dengan semua pihak, sektor swasta, untuk mengoptimalkan transisi energi dan menciptakan peluang bisnis pertambangan bernilai tambah di Indonesia," pungkas Arifin.

Dalam kunjungan ini, beberapa perusahaan Ceko yang ikut hadir juga menyampaikan potensi kerjasama di bidang energi dan industri penunjangnya, antara lain pembentukan joint venture untuk industri solar photovoltaic di Indonesia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini