RI Kantongi Utang Rp24,6 Triliun dari Bank Dunia, Bisa untuk Apa?

Shelma Rachmahyanti, Jurnalis · Selasa 22 Juni 2021 13:55 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 22 320 2429049 ri-kantongi-utang-rp24-6-triliun-dari-bank-dunia-bisa-untuk-apa-DCrKFCoURk.jpeg Uang Rupiah (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Indonesia memperoleh utang baru dari Bank Dunia. Diketahui, jumlah utang tersebut yakni sekitar USD1,7 miliar atau setara Rp24,6 triliun.

Adapun utang tersebut digelontorkan dalam tiga tahap untuk mendukung tiga program pemerintah Indonesia yang berkaitan dengan pemulihan ekonomi dan penanggulangan pandemi.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Utang Luar Negeri Indonesia Dekati Rp6.000 Triliun

Peneliti Makroekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, mengatakan, jika dilihat dari aspek pembiayaan utang terutama sumbernya, keputusan Indonesia untuk mengantongi utang baru dari Bank Dunia merupakan alternatif ideal.

Menurut dia, kondisi Indonesia belakangan ini memang membutuhkan pembiayaan yang relatif cukup besar. Sebagai contohnya, yakni dari segi kesehatan dan ekonomi.

Baca Juga:  Rincian Utang Luar Negeri Indonesia yang Dekati Rp6.000 Triliun

“Kita lihat bahwa sejauh ini kondisi kesehatan kita belakangan mulai memburuk. Jadi, ini memang salah satu pertanda bahwa kita harus memperbaiki lagi kondisi dalam negeri. Ini memang juga belum kita bisa lihat stabil, dalam arti bahwa kita belum tahu sejauh mana kebutuhan pendanaan kita di kesehatan,” ujar Riefky dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (22/6/2021).

Lanjutnya, dari aspek ekonomi, hal ini membuat Indonesia memerlukan pendanaan yang siaga. Di mana, sejauh ini Indonesia memang memiliki margin utang yang sudah dilebarkan, yakni bisa melewati tiga persen hingga tahun 2023.

“Sejauh ini kita memiliki margin utang yang sudah dilebarkan, bisa lewat tiga persen hingga tahun 2023. Tapi kalau kita lihat beban pembiayaan utang kita ini di APBN sudah cukup tinggi. Jadi ketimbang menerbitkan utang melalui instrument normal yang relatif mahal yieldnya, saya rasa memang dari bank dunia ini adalah altenatif yang ideal di saat kondisi krisis seperti ini,” ucap Riefky.



1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini