Rencana IPO Bukalapak dan GoTo Jadi Momentum Berikan Kemudahan Regulasi

Agregasi Harian Neraca, Jurnalis · Jum'at 25 Juni 2021 14:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 06 25 320 2430864 rencana-ipo-bukalapak-dan-goto-jadi-momentum-berikan-kemudahan-regulasi-KDJOusjR45.jpg IPO Bukalapak dan GoTo (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kabar starup besar atau unicorn, seperti Bukalapak, Tokopedia dan Gojek masuk ke pasar modal disambut baik pelaku pasar. Apalagi, rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sudah lama di wacanakan. 

Kini kepastian Bukalapak dan Tokopedia yang saat ini sudah merger dengan Gojek (GoTo) melantai di pasar modal bukan lagi sekedar wacana tetapi tinggal menunggu waktu. Bila tidak ada aral melintang, kedua unicorn dengan kapitalisasi besar bakal IPO di Juli tahun ini.

Berdasarkan dokumen mini ekspos BEI, disebutkan bahwa Bukalapak pertama kali melakukan registrasi IPO ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 7 Mei 2021. Penawaran saham dilakukan pada 23-27 Juli 2021, dan listing di BEI pada 29 Juli 2021. 

Meski demikian, VP of Corporate Affairs Bukalapak, Siti Sufintri Rahayu seperti dikutip investor daily di Jakarta, kemarin masih enggan memberikan konfirmasi kebenaran atas dokumen yang bocor ke publik tersebut. 

Baca Juga: IPO Pekan Depan, Intip Laporan Keuangan Bukalapak

"Kami senantiasa mengeksplorasi kesempatan bagi perusahaan untuk terus bertumbuh dan berkembang secara finansial. Namun untuk saat ini, kami belum membuat keputusan apa pun," ungkap dia seperti dikutip Neraca, Jumat (25/6/2021).

Saat ini kata dia, Bukalapak fokus mencari strategi tepat untuk menjadi perusahaan yang berkelanjutan dan menciptakan nilai tambah bagi para partner dan pengguna untuk waktu mendatang. Dalam memuluskan aksi korporasi tersebut, Bukalapak menggandeng Mandiri Sekuritas dan Buana Capital Sekuritas sebagai joint lead managing underwriter, serta UBS Sekuritas Indonesia sebagai domestic underwriter. Selain itu, Bukalapak juga menggandeng UBS dan BofA Securities sebagai joint global coordinators, serta UBS, BofA Securities, dan Mandiri Sekuritas sebagai joint bookrunners.

Pada IPO nanti, Bukalapak akan melepas sebanyak-banyaknya 25% dari total modal yang disetor dan ditempatkan, dimana jumlah tersebut termasuk employee stock allocation (ESA) maksimal 0,1%. Sebelumnya, Bukalapak sendiri menargetkan bisa meraih dana dari hajatan IPO sebesar USD 300 juta. 

Menurut Kepala Ekonom BCA, David Sumual, momentum IPO starup unicorn perlu mendapatkan kemudahan regulasi dari pemangku kepentingan terkait, salah satunya adalah peraturan mengenai profitabilitas untuk memudahkan start-up dalam mencari pendanaan.

Baca Juga: Bukalapak Dijadwalkan IPO 29 Juli dengan Kode Emiten BUKA

"Perlu aturan yang meringankan mereka untuk bisa listing di bursa. Misalnya, salah satu yang sulit itu adalah peraturan terkait profitabilitas," katanya.

Selain itu, lanjut dia, kemudahan perizinan, biaya listing yang lebih murah maupun kecepatan administrasi menjadi beberapa aspek yang ditunggu perusahaan teknologi yang akan IPO. Nantinya, dengan adanya pembenahan peraturan yang disertai sinyal kuat dari para investor, start-up bisa jadi daya tarik tersendiri bagi masuknya investasi asing ke dalam negeri.

Dirinya juga memastikan, penawaran saham tersebut nantinya bisa menarik minat pemodal dalam negeri, yang ingin berkontribusi terhadap berkembangnya perusahaan berbasis digital milik anak bangsa.

"Coba lihat China, dia memiliki perusahaan teknologi berbasis domestik yang besar dan pasarnya juga besar. Dengan pasar domestik kita yang besar, kita juga seharusnya bisa memberikan dukungan bagi perusahaan teknologi lokal yang bagus dan mampu bersaing," katanya.

David juga menambahkan, reformasi regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat meningkatkan kinerja saham-saham di sektor teknologi seperti yang terjadi di bursa AS, Eropa hingga China.

"Kalau dulu, saham komoditas yang diburu investor, tapi sekarang saham-saham teknologi jadi primadona. Di Eropa dan Amerika, investor menunjukkan antusiasme besar pada saham-saham sektor teknologi," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini